Pagi ini teh manis enak sekali…
Kemarin malam, saya ke warnet untuk mengecek email sekaligus mengambil beberapa bahan tugas. Saya menyempatkan untuk datang ke blog Mr. R. Ini adalah hal rutin yang biasa saya lakukan setiap kali ke warnet. Kira-kira seminggu yang lalu, saya sempat komen di tulisan Mr. R—atau lebih tepatnya salah satu iklan buku Mr. R—yang berjudul Qur’anic Law of Something. Seperti biasa, itu berisi kritikan. Karena saya peduli, saya merasa Mr. R punya potensi, tapi sayangnya dia tidak mengembangkannya tapi malah menjadikan dirinya copy-writer (tukang tulis copy). Jadi, saya berniat baik memberi masukan—yang biasanya juga tidak didengar.
Malam ini saya ingin melihat tanggapan dari Mr. R tentang komen saya itu. Tapi yang saya dapat malah hal yang agak mengejutkan juga. Mr. R menghapus komen dari saya dan memberikan tanggapannya yang—memang harus begitu—defensif terhadap bukunya.
Saya pun jadi agak terganggu. Masalahnya, komentar saya tidak ada, yang ada hanya tulisan Mr. R. Saya pun mengira ini adalah cara Mr. R untuk memproteksi dirinya. Oke lah, dia memang harus memproteksi dirinya—dan penjualan bukunya—dari orang-orang seperti saya. Tapi saya kira—dan saya juga yakin—kritik tidak akan menghancurkan seseorang. Kalau mau menghancurkan seseorang, pujilah ia sebanyak-banyaknya sampai keracunan pujian dan mati.
Semua komentar di blog Mr. R biasanya isinya memuja-muji Mr. R. Dari mulai tentang bukunya yang fenomenal sampai menyamakannya dengan Einstein, yang saya rasa malah hanya akan memperburuk kualitas Mr. R saja. Karena dikritik, seharusnya Mr. R bisa melihat mana yang harus diperbaiki mana yang tidak. Kalau memang kritik, atau apapun yang dibicaran di dalam kritik itu, tidak dimengerti, atau ilmu Mr. R tidak sampai ke sana, atau dia merasa semua itu tidak penting, sikap yang humble lebih baik dan lebih memperlihatkan kepribadian yang matang. Membunuh lawan dengan racun, bukan dengan bertarung di lapangan, saya kira malah perbuatan yang licik sekaligus memperlihatkan kualitas seseorang yang sebenarnya.
Malamnya, saya mendapat kabar kalau Mr. R sudah memberikan konfirmasi pada seorang teman saya kalau ia tidak sengaja menghapus komen saya dan dia tidak menyadarinya. Dia juga menambahkan kalau dia menanggapi komentar saya itu tepat di bawahnya. Tapi ini janggal buat saya. Saya pun membuat analisis tentang bagaimana mungkin sebuah pesan bisa terhapus tanpa disadari.
Analisis pertama adalah: Mr. R tidak punya kebiasaan untuk menanggapi komentar seseorang tepat di bawah komentar orang itu. Dia biasanya membuat komen baru. Jadi, kalau tiba-tiba saja dia ingin menanggapi komentar saya—dan tanggapan dia cukup panjang juga—saya kira agak ganjil.
Kedua: saya pun menapak-tilas cara me-reply komen dengan mengedit komen itu. Jadi reply akan langsung terlihat di bawahnya. Hasilnya, komen yang asli tidak terhapus. Yang muncul kemudian adalah komen plus reply-nya.
Ketiga: kalau memang komen saya terhapus, misalnya, Mr. R—dengan kesopanan, kemurah-hatian, kepribadian yang memukau—yang kita tahu selama ini, pasti akan memberikan konfirmasi. Bukannya malah menganggap itu tidak penting. Atau, karena selama ini kami berteman, dia akan memberitahukan langsung pada saya, layaknya teman.
Saya kira selama ini kami berteman. Itulah masalahnya. Saya sadar kalau mungkin kritik saya agak membuat Rusin tidak nyaman. Seperti selama ini Mr. R tidak suka berdebat, kritikan saya pun tidak pernah ditanggapinya. Saya rasa, akan lebih baik bila Mr. R menanggapi semua kritik yang masuk dengan elegan dan intelek. Cara menghapus kritik yang masuk agar orang lain tidak membaca dan tidak terpengaruh, saya kira juga cukup efektif. Tapi ini tidak memperlihatkan kebesaran hati sekaligus dalamnya pemahaman.
Saya pun merasa di-”peras”. Mungkin kata ini kurang cocok. Karena Mr. R hanya akan menghubungi saya bila membutuhkan sesuatu, misalnya buku atau film untuk dipinjam (saya sudah lama bertekad tidak akan meminjamkannya lagi setelah insiden delete yang agak berbeda dengan ini. Saya memberikannya film yang bagus untuk ditonton dan sesuai dengan tema buku-bukunya tentang motovasi. Saya meng-copy film itu di harddisk laptopnya, tapi kemudian dia hapus dengan alasan dia sudah menonton dan tidak enak kalau orang tahu dia punya file film di laptop. Tapi sebulan kemudian dia menelepon saya dan meminta dipinjamkan film itu. Setelah mengobrol lama, ternyata saya baru tahu kalau film yang dia bilang sudah dia tonton dan film yang saya copy-kan untuknya adalah dua film yang berbeda). Atau butuh cara mengambil foto yang baik untuk poster diskusi buku. Dan saya, biasanya, dengan senang hati akan memberikan apa yang dia minta atau menjawab apa yang dia tanyakan (tapi tetap menolak meminjamkan apapun).
Beberapa orang di sekitar saya bilang kalau saya tidak perlu menanggapi Mr. R lagi. Biarkan saja Mr. R dengan kedigdayaannya sebagai copy-writer (atau tukang tulis contek, ayolah, Mr. R kan hanya mencontek apa yang ada di buku best-seller dan menambahkan ayat-ayat Al-Qur’an agar jadi Al-Qur’anic ini-itu) dan saya mengurus dunia saya sendiri dan hal-hal yang menarik buat saya. Kalau saya tertarik dengan Mr. R (tertarik secara a-romantis), itu adalah ketertarikan yang salah. Karena Mr. R berkutat di tempat yang sempit bagaikan katak dalam tempurung dan sudah terlalu nyaman dengan temprungnya. Berteman dengan Mr. R tidak akan memberikan feedback apapun kecuali hal-hal seperti ini. Sangat disayangkan memang untuk seseorang dengan potensi dan posisi seperti Mr. R. Dan pagi ini, sambil minum teh manis, saya mulai menyetujui nasehat itu. Saya pun merasa tidak mendapat manfaat apapun dari hubungan saya dan Mr. R.
Dan teh manis di pagi ini terasa makin enak karena saya pun merasa terbebaskan dari belenggu Mr. R. Karena tidak ada yang penting juga tentang apa yang ditulis Mr. R. Membebaskan diri secara sadar for the greater goodness.
PS: Bagi yang belum tahu Mr. R, Mr. R adalah penulis buku Qur’anic Law of Something dan… dll (saya tidak hapal buku-bukunya). Kalau berminat, silahkan lihat blognya saja….
Posted in melihat sekeliling
Recent Comments