Cinta Tidak Absolut
Masalahnya, kita tidak bisa mengatakan seseorang sudah berbuat salah atau benar seenaknya. Apa yang terlihat di luar tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri orang itu, bukan?
Kebenaran tidak absolut.
Begitu juga cinta.
Kita bisa mengatakan cinta, tapi tiap kali kita mengatakannya mungkin kadarnya berbeda. Bisa bertambah atau berkurang.
Misalnya saja kita mengatakan, “Aku cinta padamu.”
Hari ini mungkin kadar cinta yang terkatakan itu, jika harus menggunakan angka agar lebih mudah, 87%. 9% berkurang karena Si Dia kelihatan melirik cewek—atau cowok—lain kemarin, dan yang 4% lagi karena Si Dia meletakkan baju kotor sembarangan.
Lalu keesokan harinya, kita mengatakannya lagi, “Aku cinta padamu.”
Kali ini kadarnya 89%. Bertambah 2% karena hari ini Si Dia membereskan baju kotornya.
Malam harinya, di hari yang sama, kita mengatakannya lagi, “Aku cinta padamu.”
Kali ini kadarnya 98%. Naik 10% karena Si Dia minta maaf sudah melirik orang lain kemarin plus memberi hadiah—hati siapa tak kan luluh?
Semuanya cinta. yang 87%, 89%, dan 98%.

Hanya waktu yang paling mengerti cinta. Waktu yang bisa menumbuhkan Cinta. Waktu pula yang bisa juga membunuh Cinta. Semakin lama waktu berjalan maka cinta juga akan semakin teruji. Ketika waktu nya belum tepat Cinta ngga akan datang. Kita tidak bisa memilih kapan kita bisa jatuh cinta, dengan siapa kita jatuh cinta. Cinta hanya duduk menunggu diujung sana sambil menatap kita dan berkata ‘tidak sekarang’ lalu pergi ke orang lain yang sudah tiba waktunya….
Cinta memang topik yang universal, dalam maknanya, penuh ketulusan…tetapi cinta yg tidak pernah mengecewakan, cinta yg tidak pernah mendzalimi, cinta yg adil, dan cinta yg tidak termakan oleh waktu seperti kata-kata di atas adalah cinta Allah sama umatnya,..Wallahu’alam…
Mohon maaf komentarnya pjg:)
setuju! kayak katanya bang Anis Matta; ujian cinta adalah waktu.
tapi Mas Misbach juga bilang: seharusnya cita itu sederhana/seperti aku mencoba mencintaimu sewajarnya//
tapi aku juga bilang: cinta itu kata kerja, jadi ya… harus dikerjakan, bukan cuma dikonsepkan.
kamu bilang apa, Akuzahra?