Sistem Studio Hollywood, Sebuah Essay
Hollywood became more than the centre of film-making: Hollywood meant films, and its name will always be assosiated with the golden age of the industry[1].
Hollywood dan industri film adalah dua hal yang tidak dapat dilepaskan. Bagaimanapun Hollywood selalu identik dengan film. Film adalah Hollywood dan Hollywood adalah film. Satu hal yang membuat Hollywood sangat terkenal dan menjadi raksasa dalam industri film adalah keberhasilannya membawa film sebagai salah satu komoditas dagang yang menguntungkan dengan mengembangkan sistem studio yang akhirnya dikenal dengan nama Sistem Studio Hollywood. Sistem ini sangat identik dengan Hollywood.
Sistem ini tidak begitu saja ada, Hollywood mengembangkannya sedikit demi sedikit hingga menjadi suatu sistem yang mapan.
SEJARAH LAHIRNYA HOLLYWOOD
Hollywood tidak lahir begitu saja. Sebuah proses yang panjang dan rumit membentuk Hollywood seperti yang kita kenal sekarang. Tahun 1908, Thomas Alfa Edison membentuk Motion Picture Patent Company (MPPC). Di bawah bendera MPPC, Edison dan Biograph menjadi satu-satunya penyedia bahan baku dan pemilik paten untuk semua peralatan yang digunakan dalam pembuatan film. Untuk mendapatkan lisensi untuk membuat, mendistribusikan, dan mengeksebisi film yang mereka buat, perusahaan-perusahaan film lain harus menjadi anggota MPPC. Perusahaan-perusahaan yang tidak menjadi anggota MPPC tidak dapat melanjutkan kegiatan mereka karena terbentur peraturan paten. Edison mematenkan semua barang temuannya, termasuk kamera dan bahan baku film, sehingga siapa saja yang ingin menggunakannnya harus membayar paten. Namun MPPC tidak sepenuhnya berhasil membatasi pergerakan perusahaan-perusahaan lain yang tidak tergabung dalam MPPC.
Beberapa perusahaan independen, yang tidak tergabung dalam MPPC, tetap bertahan. Salah satu sutradara dari Biograph yang paling penting, D. W. Griffith, keluar dari perusahaan itu dan mendirikan perusahaannya sendiri pada tahun 1908. Hal yang sama juga dilakukan para pembuat film yang lain. Tahun 1912, pemerintah Amerika Serikat melarang MPPC, dan tiga tahun kemudian MPPC dinyatakan sebagai monopoli dan harus dibubarkan. Sekitar tahun 1910-an perusahaan-perusahaan film yang tidak tergabung dalam MPPC, mulai pindah ke California. Beberapa sejarahwan mengklaim bahwa kepindahan para independen ini untuk menghindari kekerasan dan tekanan yang dilakukan MPPC, namun beberapa perusahaan yang dulu tergabung dalam MPPC juga ikut pindah. Mereka memilih Hollywood, sebuah kota kecil di California karena iklim yang baik, matahari bersinar sepanjang tahun yang sangat mendukung pembuatan film, selain itu kota ini juga mempunyai banyak variasi tempat yang indah –gunung, laut, gurun, hingga kota—yang sangat baik untuk dijadikan sebagai lokasi syuting.
Di Hollywood inilah para pembuat film independen mulai merancang dan membangun sebuah kerajaan film yang pada akhirnya benar-benar bisa menguasai perfilman dunia.
SISTEM STUDIO HOLLYWOOD SEBELUM MUNCULNYA SUARA
Kurang dari satu dekade, dengan sistem yang mereka kembangkan, Hollywood mampu memproduksi film-film yang menguasai tidak hanya pasaran Amerika Serikat saja, namun juga menembus pasaran dunia. Dengan menekankan pada produksi film yang serba cepat –mirip dengan pembuatan barang di pabrik—dan menguasai secara semua aspek yang berkaitan dengan bisnis film; mulai dari produksi, distribusi, hingga eksebisi, Hollywood membentuk sebuah sistem yang pada akhirnya kita kenal dengan Sistem Studio Hollywood. Dasar dari sistem ini adalah pembuatan rencana tahunan untuk film-film yang akan diproduksi. Sebuah film tidak lagi menjadi apresiasi artistik perorangan tapi lebih kepada sebuah produk yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari sebagai salah satu dari serangkaian produk yang dproduksi sebuah studio pada tahun tertentu.
Dengan sistem ini mereka mengembangkan metode pembiayaan yang efektif untuk setiap produksinya, memperluas pasar untuk produk-produknya hingga ke seluruh dunia dan menjamin pasokan film dari produser ke konsumen dengan memegang kepemilikan dari teater-teater utama di kota besar, tidak hanya di Amerika Serikat, tapi juga di seluruh dunia. Negara-negara di Eropa mencoba berbagai macam perlindungan untuk membendung jumlah film-film Hollywood yang masuk ke negara mereka agar perfilman nasional di dalam negeri tidak mati. Mereka memberlakukan pajak, bea masuk, kuota, bahkan boikot, namun cara-cara ini tidak sepenuhnya berhasil menurunkan dominasi film-film Hollywood.
Tahun 1912, para pembuat film independen ini memproduksi film dalam jumlah yang cukup untuk mengisi kebutuhan pasokan film di bioskop. Setiap film yang mereka keluarkan menjadi sebuah produk yang unik, yang diiklankan dengan gencar. Dengan kurang lebih 20.000 bioskop yang dibuka di Amerika Serikat pada tahun 1920-an, film-film keluaran Hollywood ini dengan mudah menarik penonton. Ketika itu, para pembuat film independen perlahan-lahan berubah menjadi sebuah sistem.
SISTEM PRODUKSI
Sepanjang akhir 1910-an hingga awal 1920-an, sebuah perusahaan sukses yang dikepalai Adolph Zukor, Famous Player-Lasky Corp.[2], mengembangkan sebuah sistem untuk memproduksi film dalam skala besar. Sistem ini sangat dikagumi hingga industri-industri film di luar negeri mengirimkan wakil mereka untuk mempelajari sistem ini, bahkan jika memungkinkan, untuk menjiplaknya habis-habisan.
Hollywood menekankan kemampuan promosinya pada star system. Dengan sistem ini, Hollywood memanfaatkan media massa dan media komunikasi lainnya untuk mempromosikan untuk menyusupkan sesuatu yang menarik perhatian –yaitu bintang-bintang yang ada pada film mereka—sehingga publik penasaran dan mau menontonnya. Hollywood menmbuat skenario berdasarkan tokoh utama film mereka. Bintang-bintang inilah yang menjadi alasan mengapa film dibuat. Bintang-bintang itu dengan cepat menyadari hal ini. Mereka sadar bahwa mereka adalah hal yang sangat penting bagi industri perfilman Hollywood. Semakin bintang itu bisa membuat film laris ditonton, semakin mereka mempunyai nilai tawar.
Hollywood memperkenalkan shooting-script yang kemudian menjadi populer. Secara bertahap, film Hollywood mempunyai durasi yang lebih panjang, rata-rata sembilan puluh menitan, dan ceritanya pun menjadi semakin kompleks dan rumit. Mereka mempersiapkan dan mengantisipasi segala sesuatunya pada tahap pra-produksi agar film menjadi lebih murah dan lebih cepat untuk dibuat. Pembuat film pun mulai mengaembangkan teknik untuk meminimalisasi pengulangan-pengulangan dalam pengambilan gambar. Penulis naskah memutuskan genre film yang akan dibuat, membuat daftar pemeran, menyusun sinopsis ceritanya, lalu membuat skenario scene per scene. Susunan kerja seperti ini memudahkan pemilik studio untuk membuat keputusan tentang film apa yang akan digarap selanjutnya. Hollywood adalah sebuah pabrik film. Seperti pabrik lainnya, Hollywood memproduksi film sesuai dengan permintaan pasar.
Sistem produksi seperti ini tidak ditemukan begitu saja, namun dikembangkan sedikit demi sedikit. Pioner dari sistem ini adalah Thomas Ince yang bekerja di Mutual pada tahun 1913. Standar kerja studio, menurut Ince, terdiri atas tiga bagian inti; produser, penulis naskah, dan sutradara. Ince, sebagai produser, mengembangkan proyek, mencari lokasi syuting, mengawasi penulis naskah dan tim artistik untuk membuat skrip, set, dan kostum yang sesuai. Ia juga menyiapkan back-up yang siap menjaga keramaian selama syuting berlangsung dan juga pemadam kebakaran yang sangat membantu bila set yang terbuat dari kayu terbakar.
Kepala studio merancang perencanaan film tahunan. Setting artistik dibuat efisien agar dapat digunakan berulang kali dan dapat diadaptasikan pada cerita yang berbeda. Tim artistik membuat seting artistik, bagian casting mencari pemain yang cocok, make-up artist membuat penampilan glamour untuk para bintang agar mereka terlihat sempurna di depan kamera, dan cameraman mengambil gambar sesuai dengan shoot-script yang sudah tertulis dan direncanakan. Dengan pembagian kerja seperti ini, pembuatan film akan lebih efisien, cepat, dan murah.
DISTRIBUSI, KONTROL PASAR, DAN EKSEBISI
Untuk mengendalikan situasi dan memaksimalkan keuntungan di luar negeri, perusahaan-perusahaan besar Hollywood membentuk sebuah assosiasi yang bernama Motion Picture Producers and Distributors Assosiation (MPPDA) dengan Will H. Hays sebagai ketuanya. Will H. Hays memastikan pasaran luar negeri tetap terbuka untuk menerima film-film Hollywood. Pada pertengahan 1920-an, Hollywood mendominasi pasaran film dunia yang secara tidak langsung juga mempengaruhi standar perfilman di negara-negara lain dalam hal style, form, dan content-nya.
Faktor ketiga yang sangat krusial dalam bisnis film adalah eksebisi. Hollywood tidak hanya menjadi sekumpulan perusahaan pembuat film di California, tapi juga pemilik serangkaian gedung teater mewah di jalan-jalan utama dari New York hingga Los Angeles, Chicago hingga Dallas, dan, dalam waktu yang singkat, dari London hingga Paris. Gedung bioskop mewah ini lebih dari pada teater biasa. Arsitekrtur yang megah dan sentuhan high-class dibuat untuk memenuhi selera penonton yang tidak hanya mendatangi gedung bioskop untuk menonton film, namun juga menjadi salah satu jalan untuk menunjukkan status sosial.
SISTEM STUDIO HOLLYWOOD SETELAH MUNCULNYA SUARA
Periode transisi dari film bisu ke film bersuara sempat menimbulkan kepanikan dan kebingungan, namun juga menstimulasi banyak eksperimen dan ekspektasi. Untuk memahami pengaruh penemuan suara dalam film, kita tidak bisa melupakan bahwa film bisu tidak sepenuhnya bisu. Film bisu mempunyai banyak referensi dari banyak jenis suara. Mereka juga menempatkan penonton sbegai pendengar, tidak hanya sebagai penonoton. Film-film ini juga ditampilkan dengan live-music yang dibawakan oleh seorang pianis atau orkestra, dan terkadang musisinya juga menambahkan efek suara pada adegan di layar.
Pada tahun 1928, Warner Brothers[3] mengeluarkan film The Jazz Singer, yang disutradarai oleh Alan Crosland dan dibintangi bintang vaudeville terkenal, Al Jolson, dengan lipsync dari lagu-lagu dalam film tersebut dan juga beberapa bagian dari dialog. Pada tahun 1930-an semua studio Amerika sudah menggunakan suara dalam pembuatan filmnya dan mereka tidak lagi membuat film bisu. Namun perkembangan teknologi suara ini juga menunculkan berbagai masalah. Awalnya, permasalahan bahasa yang menjadi kendala utama dalam distribusi film-film Hollywood ke luar negeri dapat diatasi dengan pembuatan sebuah genre baru, yaitu film musikal karena tidak tergantung pada dialog saja dan dapat dapat dinikmati siapa saja di seluruh dunia tanpa harus diterjemahkan. Untuk memecahkan kendala bahasa dalam film, studio Hollywood yang besar, seperti Paramount, mendirikan sebuah studio raksasa dengan modal yang sangat besar di Perancis bernama Joinville, yang memproduksi film dengan multi bahasa; mereka membuat film dengan bahasa yang berbeda, tapi dengan kostum dan setting yang sama. Salah satu film yang dibuat dengan metode ini adalah Atlantic[4] yang disutradarai E. A. Dupont.
Menurut Karel Dibbets[5] setidaknya ada empat hal yang muncul karena adanya penemuan teknologi suara dalam film:
1. Pergeseran dari orkestra ke sound-track menandakan akhir film sebagai pertunjukan multimedia. Para eksebitor tidak lagi dapat menambahkan pertunjukan musik secara langsung untuk mengiringi film saat diputar.
2. Film masuk ke bioskop sebagai produk jadi, teknologi baru ini menyebabkan variasi lokal yang biasanya ditambahkan dalam presentasi film tidak dapat dilakukan. Suara dalam film membuat film menjadi sebuah produk yang lengkap, tidak lagi tergantung pada pertunjukan tambahan seperti orkestra atau pianis, dan film akan dipertunjukan sama persis di semua bioskop di seluruh dunia.
3. Definisi tentang film berubah secara drastis ketika musik dan efek suara, yang sebelumnya adalah elemen terpisah dari film, menjadi sesuatu yang disatukan dengan film itu.
4. Suara tidak hanya mengubah kondisi film, tapi juga keadaan penonton ketika menonton film. Penonton tidak lagi datang untuk melihat pertunjukan multimedia yang terpisah antara gambar di layar dan pertunjukan musik yang mengiringi film di tepi layar, tapi mereka datang hanya untuk melihat apa yang ada di layar. Menonton film menjadi proses yang sangat eksklusif dan satu arah antara pembuat film dan penonton secara individual.
Penghilangan orkestra sebagai pengiring film menjadi sebuah tragedi sosial karena pada tahun 1920-an, perfilman mempekerjakan begitu banyak musisi. Bioskop-bioskop juga banyak yang tutup karena ketidaksanggupan mereka untuk menyediakan elemen pendukung, seperti sound-system, yang dibutuhkan untuk menampilkan film bersuara. Hanya bioskop-bioskop besar yang dapat menyediakan hal-hal tersebut dan tetap bertahan. Bahasa visual dalam film pun menjadi tergantikan oleh bahasa verbal yang membuat film terkesan ‘talkies’. Hal ini membuat banyaknya pro dan kontra seputar teknologi baru ini. Pihak yang pro, memandang suara sebagai hal baru yang dapat membuat film menjadi lebih menarik. Sementara orang-orang yang tidak setuju mengganggap suara sebagai akhir dari sinema karena esensi dari film adalah bahasa visual. Menurut Sergei Eisenstein, suara mematikan penyutradaraan, konteks film menjadi terkurung oleh set suara, pembuatan film makin rumit dan mahal.
STUDIO-STUDIO HOLLYWOOD
Selama era film bisu, industri film Hollywood berkembang menjadi sebuah oligopoli; beberapa perusahaan bekerjas ama untuk menguasai pasar. Stuktur oligopoli ini menjadi mapan pada tahun 1930-an, namun kedatangan suara dan depresi ekonomi yang terjadi membuat beberapa perubahan. Pada periode ini muncullah kekuatan besar dalam industri film Hollywood yaitu The Big Five[6]. Tiga dari lima The Big Five mengalami masalah keuangan pada masa depresi di awal 1930-an. Warner Brothers dapat bertahan setelah menjual seperempat asetnya. MGM[7] tidak hanya dapat bertahan, tapi juga berprospek bagus selama masa depresi karena serangkaian bioskop yang dimilikinya hanya khusus diperuntukkan bagi masyarakat kelas atas yang ada di kota besar. Selain itu, jaminan keuangan dari perusahaan induknya, Loew’s Inc., membantu perusahaan ini tetap bertahan.
Tiga studio kecil Hollywood yang dikenal dengan sebutan The Little Three[8], berhasil bertahan pada masa depresi karena mereka tidak mempunyai jaringan eksebisi seluas yang dimiliki oleh The Big Five. Studio-studio kecil ini menyesuaikan sistem produksi mereka dengan mengembangkan strategi pasar yang lebih efektif. United Artist (UA) [9]mulai membatasi produksi film-film kelas ‘A’ dan mulai membuat film-film di bawah stantar film kelas ‘A’, yaitu film kelas ‘B’. Filmkelas ‘B’ ini pembuatannya lebih murah dan cepat, biasanya berupa film action atau western dengan durasi 60 menitan. Columbia[10] dan Universal melakukan pendekatan berbeda untuk mengatasi masalah ini. mereka menjalankan perusahaan dengan dana seminim mungkin dan memproduksi film-film yang tidak terlalu beresiko gagal dalam penjualannya, yaitu film kelas ‘B’. Beberapa studio yang memproduksi film dengan kelas ‘B’ ini, seperti Monogram dan Republik, tidak hanya dapat bertahan pada masa depresi, tapi juga menjadi perusahaan yang penting di akhir 1930-an.
Seorang sejarawan, Robert Sklar, memberikan analisisnya tentang kontrol studio di tahun1930-an:
The ultimate issue is not who owns the movie studio but who manages them. When several studio began to founder in the early Depression years, the outside interests who took them over were determinated to play a direct role in running them, to demonstrate how practical business and financial minds could make money where men could not. By the end of the 1930s, however, all the studios were back under the management, if not the ownership, of the men ini the world entertainment.(Sklar 1976)[11]
Selain itu, kunci utama yang membuat Hoolywood dapat bertahan dan juga sukses di akhir 1930-an adalah intervensi Wall Street. Banyak orang yang berargumen bahwa Era Hollywood Klasik yang gemilang tidak akan pernah terjadi tanpa adanya dukunagn finansial dari Wall Street dan program pemulihan ekonomi dari pemerintah. Para pemilik modal dan perbankan di New York sebenarnya sudah mulai memasuki pengembangan industri ini sejak awal 1920-an, terutama pada ekspansi bioskop dan pengembangan teknologi suara. Faktor yang paling krusial adalah terpilihnya Franklin D. Roosevelt di akhir 1932, dan pengaruh positif dari National Industrial Recovery Act (NIRA) yang dicetuskan FDR.
KRITIKAN TERHADAP STUDIO HOLLYWOOD
Sistem Studio Hollywood sering kali menjadi sasaran kritik karena sisitem ini menciptakan batas yang sangat jelas antara seni dan komersialisme, sememtara banyak orang yang beranggapan bahwa film adalah salah satu bentuk seni juga. Film keluaran Hollywood tidak dapat dikategorikan sebagai hasil seni, tidak dapat dibandingkan dengan hasil karya Shakespeare, Dickens, atau Yeats, sebagai ekspresi dari jiwa manusia. Film-film produksi Hollywood cukup diterima sebagai hiburan, mitos, sebagai jawaban dari emosi orang-orang yang duduk di depan layar kaca dengan perasaan terpesona. Gambaran seperti ini membuat film bukan lagi sebuah seni, tapi tanda dari kondisi psikologi dan sosiologi dari orang-orang Amerika. Bintang-bintang, keglamoran, dan gambaran yang serba sempura disuguhkan Hollywood dalam filmnya berdasarkan harapan dan impian penonton, membawa mereka begitu jauh dari kehidupan yang sebenarnya yang berada di luar tembok gedung bioskop.
Film-film Hollywood, yang kerap dimaki karena klise meski terampil luar biasa, mengambil tenaganya dari mana pun. Produknya merupakan pemanfaatan tradisi-tradisi yang sudah mapan. Dengan mudah kita bisa mengenali tata cahaya lukisan ala Rembrant dalam film yang berlatar klasik, misalnya[12].
Zaman keemasan Hollywood dapat dikatakan sebagai periode yang sangat naif, yang penuh dengan omong kosong. Tidak ada hal yang penting yang dapat diambil dari perfilman Amerika, apalagi bila dibandingkan dengan film-film yang cerdas dan dewasa yang dibuat di Perancis oleh Renoir, Vigo, dan Clair, pada waktu yang bersamaan. Pandangan seperti ini mengasumsikan bahwa esensi dari seni film adalah kecerdasan, pemikiran, dan pandangan pribadi dari seorang kreator, seperti dalam novel, teater, atau puisi. Banyak film dari zaman itu yang tidak personal, tidak individual, film hanya menjadi produk akhir dari pola baku perancangan plot, moralitas, dan motivasi manusia.
Bibliograpi
Bordwell, David dkk. 2001. Film Art, An Introduction. United States: McGraw-Hill Inc.
Davies, Mary dkk. 1975. The Hamlyn History of The Movies. London: Hamlyn Publishing Group Limited
Thompson, Kristin dkk. 1994. Film History. United States: McGraw-Hill Inc
Utami, Ayu. Kolom Film: Membayangkan Ronggeng Srintil. Kompas, 8 Desember 2004. Jakarta: Kompas
——– 1996. The Oxford History of World Cinema. New York: Oxford University Press
[1] Mary Davies dkk., The Hamlyn History of The Movies (London: Hamlyn Publishing Group Limited, 1975), hlm. 206
[2] Adolph Zukor dulunya adalah seorang pengusaha pakaian, ia melawan MPPC dan mengimpor film dengan judul “Queen Elizabeth” yang dibintangi Sarah Bendhardt. Kesuksesannya membuat Zukor mulai memproduksi filmnya sendiri pada tahun 1913. Perusahaan yang didirikannya; Famous Players in Famous Plays, bergabung dengan Jesse Lasky Feature yang didirikan pada tahun yang sama, menjadi Famous Players-Lasky pada tahun 1916. Film-film famous Players-Lasky didistribusikan oleh paramount, yang didirikan tahun 1917 dan kemudian menjadi nama dari gabungan kedua perusahaan itu.
[3] Warner Brothers adalah sebuah perusahaan film yang dibentuk dari dua perusahaan tua, Vitagraph dan First National yang dibeli oleh empat bersaudara; Harry, Albert, Sam, dan Jack pada tahun 1923. Mereka menjual sabun, daging, dan ek krim sebelum pada akhirnya menjadi eksebitor dan distributor film. Tahun 1960-an, perusahaan ini diambil alih oleh Seven Art dan menjadi Warner-7 Art.
[4] Film ini dibuat dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman. Versi Inggrisnya dibintangi John Stuart dan Madeleine Carroll, sedangkan versi Jermannya dibintangi Francis Lederer dan Lucie Mannheim.
[5] The Oxford History of World Cinema (Oxford University Press Inc.,1996), hlm. 214
[6] The Big Five adalah istilah untuk menyebutkan lima studio terbesar di Hollywood; Paramount, Fox, RKO, Warner Brothers, dan MGM.
[7] MGM (Metro-Goldwyn-Mayer)adalah gabungan dari tiga perusahaan yang didirikan oleh Marcus Loew. Awalnya ia membeli sebuah perusahaan bernama Metro, kemudian Mayer Studio, dan Goldwyn Picture Coorporation. Louise B. Mayer menjadi kepala produser dari Metro-Goldwyn-Mayer pada tahun 1924. Irving Thalberg yang ketika itu baru berusia 25 tahun, menjadi pembantu Mayer.
[8] The Little Three terdiri atas Columbia, Universal, dan United Artist (UA).
[9] United Artist dibentuk tahun 1919 oleh D. W. Griffith, Charles Chaplin, Mary Pickford, dan Douglas Firbanks.
[10] Columbia yang dibentuk tahun 1924 adalah pengembangan dari perusahaan CBC milik Joe Brandt, Jack dan Harry Cohn.
[11] The Oxford History of World Cinema (Oxford University Press Inc.,1996), hlm. 223
[12] Ayu Utani, Membayangkan Ronggeng Srintil, (Kompas, 8 Desember 2004), hlm. 11

Thanks for information.
many interesting things
Celpjefscylc