Jaringan Media dan Saya

Dengan jaringan sebesar itu—bahkan ada jaringan media yang punya sheep farming—saya rasa, saya benar-benar terkepung. Setiap jaringan media, saya yakin, punya “misi”. Misi inilah yang akan mereka sebarkan melalui jaringan yang mereka punya. Misalnya saja Viacom yang punya MTV dan VH1. MTV Indonesia punya sapaan yang khusus dan menarik buat para remaja penontonnya; anak nongkrong. Ini adalah hal yang agak membuat hati miris dari MTV.

Mereka membuat image seakan-akan yang nonton MTV itu, atau orang-orang yang terlibat dengan dunia musik itu, pasti nongkrong. Ya, kalau tidak nongkrong, setidaknya punya hidup yang lebih banyak dihabiskan dengan kegiatan yang santai dengan alasan; bukankah musik perlu inspirasi? “Misi” mereka berhasil. Setidaknya saya punya korban di keluarga saya yang bisa dijadikan bahan rujukan. Adik laki-laki saya, yang saya yakini menonton MTV melebihi dosis yang dianjurkan orangtua saya, sekarang jadi anak band dan hidup dengan banyak sekali appointment buat nongkrong bareng teman-temannya. MTV dan teman-temannya, membuat image remaja menjadi jelek.

Mereka membuat remaja terlihat menghabiskan banyak waktunya untuk kegiatan yang tidak berguna, termasuk menonton acara mereka. Mereka membuat image bahwa remaja yang banyak belajar, berusaha menuntut ilmu, atau yang semacam itu, bukanlah remaja yang funky. Padahal remaja adalah kekuatan yang bisa menggerakkan dengan sumber daya mereka yang, bila digali, akan jadi luar biasa. Secara ekstrim saya mengatakan bahwa MTV dan teman-temannya itu mencoba memasukkan ideologi tertentu kepada para remaja untuk menjadikan mereka lengah pada hal yang lebih besar yang bisa mereka lakukan selain jadi anak nongkrong.

Saya berusaha untuk tidak terlalu menganggap serius apapun yang disajikan oleh jaringan media tersebut. Bila saya butuh hiburan, saya tidak akan menahan diri saya untuk pergi ke bioskop. Tapi saya tidak akan menganggap terlalu serius apapun yang saya dapatkan dari sana. Saya menganggap apapun yang mereka katakan, atau ributkan di media, semuanya sama saja seperti omong-omong ibu-ibu arisan yang selalu saja ribut dan ngalor-ngidul, walaupun mungkin ada benarnya juga. Simplenya, ambil baiknya, buang buruknya.

Bila melihat berita, saya merasa perlu menanggapinya cover both side. Melihat berita tragedi 9/11 misalnya, saya merasa perlu untuk melihat berita tersebut dari point of view timur tengah. Karena tiap pihak punya “kebenarannya” sendiri. Kebenaran pun sebenarnya relatif, tidak ada kebenaran yang benar-benar benar. Dan sejarah adalah konstruksi kita terhadap kejadian dalam periode tertentu. Sejarah adalah hal yang abstrak. Mengkonstruksi sejarah adalah yang bisa kita lakukan untuk membawanya pada level konkret. Masalahnya, yang berkuasalah yang menguasai sejarah.

Karena itu, saya selalu menasehati adik-adik dan saudara-saudara saya untuk tidak banyak-banyak nonton TV. Karena TV kebanyakan isinya darah dan dosa. Apalagi TV di Indonesia.

~ by mataharimerahhati on January 3, 2008.

Leave a Reply