Keseimbangan Bercerita
Dua minggu belakangan ini, adik saya—yang masih duduk di kelas tiga SMP—membawakan saya novel-novel teenlit. Ada beberapa novel yang dia bawa, mungkin sekitar tiga atau empat, saya tidak ingat benar. Salah satu novelnya bercerita tentang seorang cewek yang pacaran dengan cowok sempurna, tapi dia lalu malah tertarik dengan cowok lain yang jauh sekali dari kata sempurna; begajulan, anak band, dll. Pacarnya yang sempurna itu ternya, selain sempurna; ganteng, rajin, anak kuliahan, kaya, tapi juga yatim-piatu. Di akhir cerita, untuk singkatnya, si cowok sempurna ini akhirnya meninggal dan mewariskan hartanya untuk cewek dan si cowok begajulan itu tadi. Selesai. Sederhana. Atau, bila saya ingin mengatakannya dengan jujur, menyederhanakan masalah.
Saya jadi teringat tokoh Maria di novel Ayat-ayat Cinta. Dia pun harus mati. Analisa saya adalah; bila tokoh ini tidak mati, maka akan sulit sekali menyelesaikan novelnya. Maria harus mati, seperti juga Romeo. Bila tidak, maka wacana yang diusung bukan lagi sebuah ketulusan cinta, tapi juga poligami. Maria harus mati. Karena bila tidak, dia akan jadi istri kedua dan Aisha akan tersakiti lebih lama.
Kenapa mereka semua harus mati?
Lalu, tokoh Mas Gagah di cerpen Ketika Mas Gagah Pergi. Mas Gagah harus mati agar cerpen ini sesuai dengan judulnya. Ya, kalau Mas Gagah tidak mati, maka judulnya mungkin perlu diganti jadi; Ketika Mas Gagah Tidak Jadi Pergi. Mas Gagah harus mati karena dengan kematiannya ada satu hal yang monumental akan terjadi; kesadaran. Adiknya Mas Gagah—aduh, saya lupa namanya—akan menemukan kesadarannya.
Mereka semua mati, tapi akhir dari ceritanya tetap happy-ending.
Pengarang memang tuhan—dengan “t” kecil—dalam karya-karyanya. Dia bisa mematikan, menghidupkan, mempermainkan hidup dari tokoh-tokohnya, dan melakukan banyak hal lagi sesuka hatinya. Tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya sangat tergantung pada keputusan si pengarang ini. Apakah dia harus mati ataukah selamat dan tetap hidup?
Tapi kematian mereka selalu pada saat yang tepat. Inilah yang patut saya curigai sebagai muslihat pengarang. Tokoh-tokoh itu tidak mati begitu saja. Dia harus mati dengan meninggalkan makna. Seperti si tokoh cowok sempurna pada teenlit tadi, dia mati untuk meninggalkan warisan. Maria mati setelah membebaskan Fahri dari penjara. Mas Gagah mati dan memberikan kesadaran pada adiknya.
Bila cerita dan cerpen atau novel adalah tiruan dari realitas, maka kematian ini adalah hiperbola dari realitas. Tidak banyak orang yang mati dengan meninggalkan makna karena orang tidak bisa memilih kapan saat dia mati dan makna apa yang akan ditinggalkannya.
Apakah tokoh-tokoh ini tidak punya hak hidup?
Mati disaat dan untuk tujuan yang benar.
Tapi cerita memang butuh drama. Karena pembaca butuh yang tidak biasa. Ketika mereka membaca novel, mereka membutuhkan sesutu yang lebih daripada kehidupan biasa. Mereka ingin mendengar kata-kata cinta yang berbunga-bunga, atau kesedihan yang mendayu-dayu, atau cinta yang begitu membara. Apakah hal ini kita temui di dunia nyata? Ya. Tapi dengan kadar yang berbeda. Bila di dunia nyata—di kehidupan kita sehari-hari—semua iu jarang terdengar. Ada bagian dari diri kita yang menginginkan hal itu. Kita ingin mimpi kita diservis.
Mungkin inilah sebabnya kenapa begitu banyak cerita yang mendramatisir kenyataan dan menjadi laris di pasaran. Padahal hidup lebih nyata dari semua itu. Hidup ini lebih romantis, manis, mendayu, dan membara.
Apakah hal ini hanya ada di dunia karang-mengarang? Tidak. Saya juga menemuinya di dalam buku-buku yang mempunya tendensi mencoba untuk “menularkan” sesuatu. Bukan berari yang ditularkan ini jelek lo. Misalnya saja buku-buku tentang pernikahan dini yang banyak beredar di toko buku dan laris dibeli oleh para akhwat dan ikhwan. Apa buku ini jelek? Tidak. Karena saya pun menyukai dan membaca beberapa di antaranya. Hanya saja, setelah saya membacanya dan merenung-renungkan beberapa lama, saya merasa terlalu banyak hal yang dihiperbolkan dari dunia nyata di dalam buku itu. Tentang pernikahan dini misalnya. Memang, saya mendukung pernikahan dini untuk menghindari perzinahan. Tapi bagaimana pernikahan dini itu dijabarkan, terkadang tidak seimbang antara sisi baik dan buruknya. Misalnya dikatakan bahwa pernikahan dini itu baik untuk ini… dan itu. Tapi tidak dijelaskan bagaimana pengaruh mental seorang remaja yang masih labil bila menghadapi sebuah hubungan yang tidak bisa dianggap main-main seperti halnya pernikahan.
Pernikahan dini memang solusi, tapi untuk siapa dan bagaimana? Saya setuju dengan ucapan Jang Geum yang mengatakan bahwa obat bisa menjadi racun dan racun bisa menjadi obat, tergantung pemakaiannya.
Butuh sebuah keseimbangan.
Begitu pula dengan masalah mati-matian di atas tadi. Butuh keseimbangan antara realitas bercerita dan realitas harian untuk membuat sebuah cerita menjadi tidak memihak antara mimpi dan kenyataan.
Saya masih ingin bicara panjang lebar tentang hal ini. Masih banyak yang mengganjal. Mungkin lain waktu…

Leave a Reply