Saya Menulis Karena Ingin Dikenang
Kalau tidak bisa menjadi mausia yang hebat, yang bisa memaksimalkan semua potensinya, maka setidaknya jadilah manusia yang minimal. manusia yang minimal adalah manusia yang setidaknya; pernah menanam sebuah pohon, mempunyai seorang anak, dan menulis sebuah buku. Manusia perlu untuk meninggalkan sesuatu setelah dia meninggal. Dengan menanam sebuah pohon, setidaknya dia mewarisis sebuah hal yang bisa dinikmati oleh orang-orang setelahnya. Pohon adalah hal yang paling mudah dan murah yang bisa diwariskan seseorang kepaa generasi selanjutnya bila dia tidak mempunyai harta. Sebuah pohon akan menghasilkan buah dan dapat dijadikan tempat berteduh. SeseoranAg perlu mempunyai seorang anak untuk meneruskan keturunannya, itu pasti. Dan yang terakhir adalah: setidaknya pernah menulis sebuah buku.
Bila saya bertanya pada seseorang; kenalkah Anda pada ibu dan ayah Anda? Tahukah anda tentang apa yang dia rasakan, impikan, pikirkan, dan ketahui tentang suatu hal? Mungkin anda akan menjawab; ya. Bila saya bertanya lagi; bagaimana dengan kakek Anda? Orang tua dari kakek Anda? Kakek dari kakek Anda? Mungkin anda akan menggelengkan kepala. Tapi bila saya menyebutkan sebuah nama, misalnya saja Eisenstein, atau Shakespeare, atau mungkin Pramudya ananta Toer. Tahukah anda siapa mereka? Kebanyakan dari anda mungkin akan menjawab; tahu.
Menulis bukan hanya untuk menyalurkan hobi. Menulis dilakukan bukan karena kita bisa menulis. Tapi lebih kepada pertanyaan tentang eksistensi kita. Seseorang yang pernah menuliskan sebuah buku yang bagus, yang bermanfaat bagi orang lain, akan terus dikenang keberadaannya. Menulis di sini bukan hanya berarti menulis cerpen, puisi, atau novel. Menulis juga berarti menuliskan apa yang kita ketahui. Menuliskan kembali ilmu pengetahuan atau pengalaman kita.
Saya menulis karena saya ingin dikenang. Saya menulis karena saya merasa dengan menghasilkan tulisan yang baiklah saya akan hidup lebih lama dari waktu hidup yang diberikan Tuhan kepada saya. Tulisan saya akan melanjutkan kembali apa yang ingin saya sampaikan. Karena tulisan bersifat lebih kekal daripada keberadaan penulisnya itu sendiri.
Tapi banyak sekali buku yang ditulis oleh seseorang tapi orang tersebut tidak dikenang.
Untuk dikenang dan teus dikenang butuh lebih dari sekedar tulisan yang baik, tapi juga bermanfaat dan memberikan hikmah. Bila sebuah buku harian memang mempunyai manfaat bagi orang lain, maka buku harian pun—sebuah bentuk paling pribadi dari sebuah tulisan karena memuat perasaan, pikiran, dan hal-hal yang mungkin bersifat privasi dari penulisnya—bisa tetap abadi. Misalnya saja buku hariannya Anna Frank yang tetap dibaca sampai sekarang. Anna Frank menjadi saksi kekejaman NAZI. Dia menghabiskan sisa hidupnya yang hanya belasan tahun itu di kamp konsentrasi. Di sanalah dia menuliskan pengalamannya. Apa yang ditulisnya itu menggetarkan. Membuat orang yang membaca menjadi begitu tersentuh karena ditulis dengan cara yang lugu dan polos oleh seorang gadis cilik yang bahkan tidak mengerti kenapa dia harus mengalami hal seperti itu.
Sebuah tulisan adalah cara paling sederhana untuk menandai sebuah keberadaan. Memang butuh tulisan yang begitu bagus untuk menandai sebuah keberadaan yang lebih abadi. Karena tulisan adalah hal yang bisa ditinggalkan setelah nyawa tidak lagi di badan. Tulisan masih bisa menyampaikan apa yang ingin kita katakan walaupan kita sudah tidak lagi hidup.
Karena itulah saya menulis.

Leave a Reply