Seorang Pengemis di Jalan Otista Raya

Putri sedang berdiri di tepi jalan menunggu temannya ketika seorang ibu mendekatinya. Ibu itu menggandeng seorang anak laki-laki kira-kira berumur sepuluh tahun yang tampak lelah dan berkeringat. Wajah ibu itu pun tidak kalah lelahnya. Bahkan sendal yang ia pakai tampak hampir putus. Ibu itu bertanya pada Putri, “Cipinang masih jauh ya, Mbak?”

Putri yang bukan penduduk tetap Jakarta pun mengerutkan dahi. Ia tidak tahu pasti. Ia pun menjawab jujur bahwa ia tidak tahu.

Ibu itu pun bertanya lagi, “Ini di mana ya, Mbak?”

“Kampung Melayu,” jawab Putri.

Ibu itu kemudian menceritakan bahwa ia sudah berjalan dari Terminal Cililitan. Ia datang dari luar kota hendak mengunjungi saudaranya di daerah Cipinang. Di bis menuju Terminal Cililitan, ia dicopet. Copet itu mengambil dompetnya dengan cara menyayat sisi tasnya. Ia memperlihatkan tas tangannya yang berwarna kuning muda dengan bekas sayatan yang cukup untuk mengeluarkan sebuah dompet dari tas tersebut. Sekarang ia benar-benar tidak punya uang.

Mendengar hal itu, Putri pun merasa iba. Ia sendiri pun benar-benar dalam kondisi keuangan yang memprihatinkan dan pas-pasan. Ia seorang mahasiswi dari daerah yang dibekali uang sekali sebulan, dan sekarang hampir akhir bulan. Uangnya hampir habis.

Ia pun tidak berkata apa-apa. Ibu itu pun pergi meninggalkan Putri setelah mengucapkan terima kasih.

Ketika ibu itu berbalik dan pergi, Putri merasa bahwa keputusannya salah. Ia harus menolong ibu itu. Ia tidak bisa membiarkan ibu itu begitu saja. Ia pun lalu mengejar ibu itu dan memberikan setengah dari semua uang yang ia punya saat itu. Uang itu ia taksir cukup untuk ongkos bis menuju Cipinang. Setelah itu ia pun merasa lega. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Enam bulan kemudian, Putri yang sedang duduk di halte didekati oleh seorang ibu. Ibu itu langsung duduk di samping Putri sambil menghela napas panjang. Ia bertanya apakah Terminal Cililitan masih jauh. Putri memandang wajah ibu itu dan rasanya ia mengenalnya. Ibu itu lalu bercerita bahwa ia baru datang dari luar kota, ingin mengunjungi saudaranya yang tinggal di Kramat Jati. Ketika ia turun di stasiun kereta Tebet, ia dicopet. Copet itu mengambil dompetnya dengan menyayat sisi tasnya. Putri melihat tas yang ditunjukkan ibu itu; berwarna kuning dengan bekas sayatan di sisinya.

Putri berkata pelan, “Ibu, saya sudah pernah membantu ibu. Dulu.” Lalu ia memberikan sisa uang yang ia punya pada ibu itu. Ibu itu hanya memandangi uang itu dengan wajah keheranan lalu buru-buru pergi meninggalkan Putri.

Setelah Putri menceritakan kejadian itu pada saya, saya pun bertanya apakah dia kapok membantu orang lain yang tidak dia kenal seperti itu?

“Tidak,” jawabnya. “Rasa puas ketika bisa membantu itu menyenangkan. Kesenangkannya pun belum habis ketika tahu bahwa aku hanya ditipu. Ditipu atau tidak, itu bukan urusanku. Urusanku hanya membantu.”

* * *

Memang banyak penipuan di Jakarta. Dari cara yang paling halus sampai memaksa. Kadang, kalau saya bertemu dengan pengamen atau pengemis di jalan, terbayang oleh saya kalau rumah mereka mungkin lebih bagus daripada rumah saya. Terbayang bahwa kehidupan mereka lebih baik daripada kehidupan saya. Saya pernah diberitahu oleh ibu saya—dia punya kenalan pengemis—bahwa di kampungnya, pengemis itu punya rumah, punya kendaraan, bahkan punya sawah. Mereka tidak sesusah yang kita bayangkan. Pendapatan mereka bisa sampai 150 ribu sehari.

Tapi jauh di dalam hati saya, saya merasa lebih beruntung daripada mereka. Walaupun hidup saya pas-pasan dan sangat sederhana, saya merasa sangat beruntung karena orangtua saya bukan pengemis. Saya merasa beruntung karena saya tidak dibesarkan dengan uang hasil mengemis pada orang lain. Saya dibesarkan dengan kerja keras dan keringat. Ibarat kata ibu saya, habis daging tulang dikikis. Seperti itulah orangtua saya berusaha demi anak-anaknya.

Ada yang lebih penting daripada uang yang banyak, menurut saya. Mungkin ini kedengaran klise, tapi saya mempercayainya. Mungkin kita bisa membeli apa saja dengan uang yang banyak itu, tapi tetap ada hal yang money can’t buy!  Mungkin pengemis tadi bisa mendapatkan uang banyak dengan mengemis, tapi dia tidak mendapatkan apa yang saya dapatkan; perasaan bersyukur bahwa saya tidak perlu mengemis.

~ by mataharimerahhati on January 3, 2008.

One Response to “Seorang Pengemis di Jalan Otista Raya”

  1. Seandainya semua warga negara kita berpikir seperti kamu…
    mungkin kita akan merasa miskin karena tidak memiliki harta tetapi kita akan merasa kaya karena memiliki kati nurani dan moral yang besar dan tidak dapat diukur dangan alat ukur apapun juga…
    Terus berharap dan jangan berhenti berbuat baik….

Leave a Reply