The S** Word
Di ruang tunggu sebuah klinik, seorang anak kecil berusia delapan tahun terlihat sedang memegangi sebuah kartu rekam medis. Di sebelahnya, sang ibu duduk sambil membaca majalah. Tiba-tiba saja anak itu bertanya, “Bunda, sex itu apa sih?”
* * *
Saya sering sekali mendengar istilah ini dikonotasikan dengan sesuatu yang kotor. Seakan-akan muatan makna dalam kata ini adalah muatan yang penuh dengan dosa, tidak baik untuk diucapkan, apalagi diketahui.
Saya akan mengutip pernyataan Made Oke Negara tentang seks (atau sex dalam bahasa inggris) dan seksualitas yang dimuat dalam Jurnal Perempuan edisi 41, Mei 2005:
Seks memiliki arti jenis kelamin atau organ kelamin. Sedangkan seksualitas secara denotatif memiliki makna lebih luas karena meliputi semua aspek yang berhubungan dengan seks, yang bisa meliputi nilai, sikap, orientasi, dan perilaku.
Pendidikan seks berarti pendidikan tentang jenis kelamin atau organ kelamin, bukan pendidikan tentang seksualitas. Ini adalah salah kaprah yang sering sekali terjadi. Bila seseorang mengatakan tentang pendidikan seks, seringkali orang yang mendengar membayangkan pelajaran tentang perilaku seksual yang menjurus pada kebutuhan dan kepuasan biologis.
Bila kita mengatakan pada anak kita tentang Bunda memakai cincin karena Bunda perempuan, ini adalah pendidikan seks. Kita sedang menerangkan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan; perempuan bisa memakai perhiasan, laki-laki tidak. Ketika kita mengajarkan pada anak kita bahwa Bunda dan Ayah bisa tidur bersama karena sudah menikah sementara Kakak dan Dede tidak boleh karena Kakak perempuan sementara Dede laki-laki, ini juga pendidikan seks. Di sini diajarkan tentang perbedaan mendasar laki-laki dan perempuan dan bagaimana posisi mereka di masyarakat.
Seks bukanlah kata ajaib. Bila image kata ini lebih banyak negatifnya daripada positifnya, ini adalah beban yang memang diturunkan orangtua kita kepada kita. Saya tidak pernah mendengar orangtua saya menyebut kata ini selama hampir 22 tahun saya hidup bersama mereka. Mereka mengajarkan tentang posisi perempuan dan laki-laki sebagai seperti umumnya yang ada di masyarakat; Ayah bekerja dan Bunda memasak (karena saya percaya bahwa pernikahan itu adalah kerjasama laki-laki dan perempuan daripada dikotomi status dan kewajiban, maka sekarang saya memikirkan apa yang dikatakan orangtua saya dulu).
Bila saya menjadi ibu, saya bertekad untuk tidak meneruskan hal ini pada anak saya. Menjadi orangtua yang bisa bicara terbuka tentang seks dan seksualitas bukan berarti tanpa batasan. Orangtua perlu untuk bicara ini karena adanya kebutuhan anak untuk mengerti apa yang ada di sekeliling mereka dengan cara yang paling baik. Orangtua adalah orang yang bisa memberikan penjelasan dengan cara yang terbaik.
* * *
Sang Bunda pun berpikir sejenak, “Kenapa kamu menanyakan itu, Sayang?”
Si anak kecil pun menunjukkan kartu rekam medis yang sedang dipegangnya. Di situ tertulis kata seks. Sang Bunda pun tersenyum.
“Oh, seks itu jenis kelamin, Sayang. Coba kita lihat, Nanda seksnya di sini tertulis perempuan. Jadi jenis kelamin Nanda perempuan. Begitu, Sayang.”

Leave a Reply