Aku Hanya Sudah Tidak Punya Bintang, Dinda

Di jalan:

pada dini hari ini, sepi

lengkung langit hitam

cahaya-cahaya adalah ujung mata pedang kata

kilatannya kuning-jingga

menikam aku

dari dada sampai tembus kepala

 

Di jembatan penyeberangan:

aku mencoba menekan nomor handphone-mu, Dinda

tapi kelu jariku membatu

padahal aku tahu,

hangatmu bisa mencairkanku

hingga luluh

dan menguap

mengabut, melayang ke awang-awang

jadi gumpalan putih awan

lalu

jadi senyap rintik hujan

yang kecipak kaki kecilmu

menari di bawahnya

kembali bekukan takjubku

 

Menuruni tangga jembatan penyeberangan:

aku seperti ingin meluncur saja

ringan

 

Di depan toko lampu:

aku teringat kita biasa bicara berhadapan

dipisahkan lampu pijar 5 watt dengan kap biru muda

kamu mengajakku berdebat

tentang cinta dan kemungkinan-kemungkinannya

kataku:

“Ini bukan aljabar yang sangat kau suka itu.

Ini tentang sebuah ruang paling dalam

Di rumah hatimu, Sayang.

Kamu bisa pilih:

Bukakan pintunya dan biarkan aku masuk

ketika aku mengetuknya

atau

acuhkan saja

kamu menggeleng

katamu:

“Jadikan aku putri.

Kamu bisa jadi pangeran dengan kuda putihnya

Kamu akan mengalahkan para penyihir jahat

dan membawaku pergi ke istanamu.”

kataku:

“Itu terlalu mengada-ada.”

katamu:

“Jadikan aku bintang saja kalau begitu

yang bisa kau pandangi tiap kali

langit kelam dan malam buram.”

kamu sudah lama jadi bintang, Dinda

dengan kelipnya

dengan binarnya

(kita bisa bincangkan lagi itu, Dinda

suatu waktu

debat tidak harus selalu berakhir dengan kesepahaman, bukan?)

lalu aku berjalan pulang

 

Di kamarku:

sendiri

sendiri

sendiri

aku hanya sudah tidak punya bintang, Dinda

May 24. 2005 01:05

~ by mataharimerahhati on January 5, 2008.

Leave a Reply