Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 2)

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang biasa yang terlalu biasa. Seperti sehelai daun mahoni tua yang harus meranggas bersama ribuan sesamaku di musim kering. Mengorbankan diri agar pohon tempatku bergantung tidak mati kekurangan air. Agar ia bisa bertahan di tengah kemarau dan bisa melanjutkan hidup hingga hujan datang. Di musim itu daun-daun baru yang hijau dan segar akan muncul.

Ketika aku jatuh ke tanah, tak ada yang peduli. Hingga tubuhku layu dan membusuk. Terus terbenam ke tanah dan menjadi makanan bagi pohon asalku.

Kadang aku berharap seorang anak kecil yang sedang bermain di taman ini menemukanku. Tertarik pada warnaku yang kekuningan. Lalu memungutku dan membawaku pulang. Mengeringkan tubuhku. Lalu menempelkanku di buku gambarnya. Ia akan menunjukkanku pada gurunya keesokan harinya dan membuat guru itu kagum. Setelah itu aku hanya akan terhimpit puluhan buku di meja belajarnya. Lalu pindah ke sebuah kardus besar. Selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari si anak kecil yang sudah dewasa itu membongkar gudangnya. Mengeluarkan tiap buku yang ada di situ. Membuka tiap lembarnya. Mengulang tiap kenangan. Hingga ketika ia sampai padaku, mungkin ia akan tersenyum sebentar, kemudian membuka lembar yang lain. Kemudian melanjutkan hidupnya kembali. Seperti aku yang akan melanjutkan hidupku sebagai kenangan.

Aku bukan siapa-siapa.

     Tapi setidaknya aku adalah tokoh utama dalam cerita perjalanan hidupku.

* * *

 

Hanya aku dan Ibu di rumah ini.

Rumahku dan rumah Ibu. Walaupun dulu rumah ini pernah menjadi rumah Ayah. Sekarang hanya aku dan Ibu.

 

Kata Ibu: Kamu selalu mengingatkan Ibu pada ayahmu. Matamu seperti mata ayahmu. Suaramu seperti suara ayahmu, tawamu seperti tawa ayahmu. 

Tidak, Bu. Aku bukan Ayah. Mataku, suaraku, dan tawaku bukan seperti milik Ayah. Mata Ayah begitu teduh, Bu. Mataku tidak. Suara Ayah begitu menenangkan. Suaraku tidak. Tawa Ayah begitu menyenangkan. Tawaku tidak. Aku tidak ingin seperti Ayah. Cukuplah Ayah saja yang seperti itu. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin menjadi bayang-bayang Ayah yang akan selalu mengingatkan Ibu pada suamimu yang sudah meninggal itu. Tidakkah yang sudah pergi tidak akan pernah kembali, Bu? Sekarang ini ada aku, anakmu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Kata Ibu: Hanya kamu yang tersisa dari ayahmu.

Tidak, Bu. Aku bukan sisa siapa-siapa. Aku hanya anakmu dan Ayah. Cukuplah itu.

 

Percakapan seperti ini akan selalu terputus oleh suara Ibu yang mulai bergetar dan matanya yang berkaca-kaca. Aku pernah punya ayah yang hebat dan Ibu pernah punya suami yang menakjubkan, tapi masa itu sudah berlalu. Sekarang tinggal kami berdua. Tapi rasa-rasanya, ibuku masih tetap hidup di dalam kenangan bersama Ayah. Mungkin Ibu masih juga membayangkan mereka suka menghabiskan waktu senja dengan berbincang di beranda. Sementara aku, ingin keluar dari kenangan itu. Kenangan dilupakan bukan karena pahit, tapi karena sudah mati. Kenangan tentang Ayah sudah pergi. Aku pernah punya Ayah. Seorang ayah yang hebat. Cukuplah itu yang aku kenang.

 

Hanya aku dan Ibu di rumah ini. Rumahku dan rumah Ibu. Rumah kami. Rumah tua yang masih kokoh. Tapi Ibu tidak kokoh lagi.

Rumah ini terletak di tepi jalan raya. Halamannya tidak begitu luas. Ibu menanam berbagai bunga di sana. Aku tidak tahu banyak tentang nama-nama bunga yang ditanam Ibu, tapi aku tahu, yang berwarna merah tua itu, yang sangat disukai Ibu, bernama mawar.

Kadang aku melihat Ibu berkata-kata dengan mereka. Entah apa yang Ibu katakan pada mereka. Mungkin tentang hal-hal kecil yang Ibu temui hari ini. Tentang pengemis tua di pasar. Tentang cuaca yang kurang baik. Tentang harga sayuran.  Pernahkah Ibu membicarakan tentang aku pada mereka?

Seperti sore ini, aku memperhatikan ibu yang sedang menyiram bunga. Aku baru saja pulang kuliah. Aku memperhatikan Ibu dari jendela kamarku yang langsung berhadapan dengan taman depan sambil membuka kancing kemejaku yang basah oleh keringat. Ibu membuang ulat-ulat yang ada di batang mawar kesayangannya. Melempar mereka ke luar pagar. Mungkin mereka akan masuk ke got di depan rumah lalu meregang nyawa beberapa saat di dalam air sebelum akhirnya mati. Atau bila ulat itu mempunyai peruntungan yang bagus, ia akan mendarat dengan sedikit cedera di tepi jalan raya.

Waktu aku kecil, aku sangat suka memperhatikan ulat-ulat yang menyusup diam-diam seperti gerilyawan yang tidak ingin keberadaannya diketahui musuh. Kadang aku menemukan dua atau tiga ulat pada satu batang tanaman Ibu. Ulat-ulat yang gempal, kenyal, dan berbulu. Mereka berjalan lambat sekali, padahal mereka punya banyak sekali kaki. Tubuh mereka mulur-mengkeret seperti per yang ditarik dan dilepaskan dalam hitungan yang konstan. Bulu mereka yang tegak bergoyang-goyang lambat mengikuti gerakan tubuh mereka.

Mereka bermalas-malasan di atas daun sambil makan. Tubuh mereka semakin gemuk dari hari ke hari. Sementara daun yang mereka makan jadi bolong-bolong tidak karuan. Inilah yang paling tidak disukai Ibu dari mereka; membuat daun tanaman Ibu rusak. Namun hal ini adalah awal dari sebuah proses yang menakjubkan, metamorfosis. Mereka akan membungkus diri mereka dalam kepompong beberapa waktu, lalu sebuah proses ajaib pun dimulai. Sebuah proses yang membuat seekor ulat yang gempal menjadi kupu-kupu yang anggun.

Ibu sangat sangat membenci ulat. Ibu selalu membuang ulat-ulat itu sampai habis. Tidak ada kupu-kupu di halaman. Yang ada hanya bunga-bunga kesepian. Aku sangat menyukai kupu-kupu. Diam-diam aku sering membawa ulat yang aku ambil dari pohon jambu air di depan masjid sepulang mengaji. Aku meletakkan ulat-ulat itu di atas tanaman Ibu. Berharap mereka tidak dibunuh oleh Ibu. Tapi banyak dari mereka yang mati keesokan harinya.

Aku ingin melihat kupu-kupu.

Pernah suatu hari aku ingin menjadi kupu-kupu. Aku makan sayur yang banyak lalu tidur dengan selimut tebal. Aku berharap sayuran yang aku makan berubah menjadi sepasang sayap dan antena yang lucu. Tapi aku kecewa. Tidak pernah ada sepasang sayap yang lucu di kepalaku. Aku menangis seharian. Aku baru diam ketika Ibu membuatkan sepasang sayap dari kertas karton. Ibu menambahkan tali di sayap itu agar aku bisa memakainya. Tapi sayap palsu itu tidak pernah bisa membawaku terbang.

 

Kata Ibu: Manusia tidak akan pernah menjadi kupu-kupu. Seperti kupu-kupu yang tidak akan pernah menjadi manusia. Kita—manusia dan kupu-kupu—sudah punya nasibnya masing-masing. Beruntunglah menjadi manusia. Sangat beruntung.

     Bukankah lebih beruntung menjadi kupu-kupu, Bu? Hanya berterbangan sepanjang hari dengan sayapnya yang indah. Tidak pernah merasa sedih dan susah.

Kata Ibu: Tidak. Ulat berubah jadi kupu-kupu hanya untuk kawin dan meneruskan keturunannya. Setelah bertelur, kupu-kupu betina akan mati. Kupu-kupu jantan lebih mengenaskan lagi. Mereka mati setelah kawin dengan betinanya. Kupu-kupu betina itu akan menjadi ibu kupu-kupu yang tidak pernah melihat anaknya. Beruntunglah jadi manusia. Bisa melihat anak-anaknya tumbuh besar dari hari ke hari. Dan beruntunglah menjadi diriku, karena bisa melihatmu tumbuh. Setiap hari. Bertambah besar. Bertambah dewasa.

 

Di rumah ini tidak pernah ada kupu-kupu.

“Sudah pulang, Nak?”

     Aku terkejut ketika Ibu tiba-tiba sudah ada di belakangku. Tepat di depan pintu kamarku. Kedua tangannya kotor oleh tanah. Tangan kirinya masih memegang gunting tanaman.

     Aku mengangguk dan tersenyum, “Sudah, Bu.”

     Hanya aku dan Ibu di sini.

* * *

 

~ by mataharimerahhati on January 12, 2008.

Leave a Reply