Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 6)

Apa yang kurang dari Ibu, Yah? Untuk apa lagi anak perempuan yang Ayah inginkan itu? Tidakkah cukup aku saja anakmu? Kenapa harus menyakiti Ibu dan aku hanya untuk ambisi Ayah?

Ayah tidak menjawab. Matanya menerawang dalam mataku. Seakan ingin menjelaskan tanpa kata-kata. Tapi aku tidak menangkap apapun di sana selain sebuah rahasia yang tidak juga ingin dia katakan padaku.

Kenapa harus dengan seorang pelacur, Yah? Tidakkah di luar sana ada banyak sekali perempuan baik-baik bila Ayah ingin berpoligami misalnya? Aku yakin Ibu akan merelakan sebagian dari ayah untuk perempuan lain bila ayah menyampaikan maksud Ayah dengan baik. Menyertakan alasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh hati. Tapi Yah, apa yang ingin Ayah lakukan sekarang malah bisa menghancurkan kami.

Kata Ayah: Kamu laki-laki.

Kenapa kalau aku laki-laki, Yah?

Kata Ayah: Apakah sebuah maksud baik harus dikatakan, Nak?

Maksud baik apa, Yah?

Kata Ayah: Cinta.

Bukan cinta namanya Yah, bila cinta itu harus menghancurkan cinta yang lain.

Kata Ayah: Bukan. Bukan cinta pada perempuan itu, Nak. Tapi cinta pada kalian berdua; ibumu dan kamu. Ayah ingin anak perempuan tanpa harus menyakiti kalian.

Aku tidak mengerti.

* * *

 

Kami mengikuti perempuan itu. Rambutnya hitam sebahu. Wajahnya putih bersih. Dia memakai baju berwarna hitam tanpa lengan dan rok mini berwarna putih. Dia terlihat sangat seksi, tapi masih kesan terlihat anggun. Aku menaksir usianya masih tiga puluh tahunan. Dandanannya tidak begitu menor, tidak seperti teman-temannya yang kami temui semalam. Aku menundukkan wajahku. Tidak sanggup melihat perempuan itu. Hatiku serasa terbakar.

Bintang memarkir mobilnya di tepi jalan di seberang lokalisasi itu—sekali lagi Bintang membawa kabur mobil ayahnya, kemarin ayahnya tidak marah karena tidak tahu kalau mobilnya kami pakai—di sebuah tanah kosong yang tidak terpakai. Kami mengawasi perempuan itu dari dalam mobil. Hak sepatunya yang tinggi membuat perempuan itu sulit berjalan. Ia berjalan menjauhi tempat lokalisasi yang sekarang sudah tampak sepi. Warung-warung yang semalam tampak memenuhi tepi jalan, sekarang sudah tidak ada lagi. Perempuan itu kemudian menyeberang jalan.

“Eh, liat tuh! Dia masuk ke rumah itu!” kata Bintang sambil menunjuk ke arah rumah kecil yang berada tidak jauh dari tampat kami memarkir mobil. Aku memperhatikan perempuan itu yang sekarang sudah lenyap, masuk ke dalam rumah itu. Di situkah rumahnya?

Rasanya tidak, karena beberapa saat kemudian ia keluar dari rumah tersebut. Tapi dia menjadi sangat berbeda. Pakaiannya yang tidak senonoh dan seksi sudah bertukar dengan celana panjang hitam dan kemeja biru kotak-kotak yang bersahaja. Dandanannya juga sudah dihapus. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke belakang. Sekarang ia tampak seperti perempuan paruh baya biasa yang sederhana. Bukan lagi seorang pelacur di lokalisasi. Dan dia tampak lebih cantik.

“Wah, jadi laen banget!” kata Bintang takjub. Perempuan itu berjalan melewati mobil kami. Sesaat ia menoleh ke arah kami, tapi aku dan Bintang pura-pura tidak melihatnya.

Aku tidak mengerti kenapa perempuan itu harus bersusah-payah mengubah penampilannya sebelum pulang ke rumah. Berbagai kemungkinan mulai memenuhi kepalaku. Tapi tak satupun yang dapat aku pastikan kebenarannya. Perempuan itu menyetop sebuah angkot berwarna biru telur asin lalu naik ke atasnya. Bintang dengan sigap langsung mengikutinya. Tidak terlalu jauh sampai perempuan itu turun. Ia langsung memasuki sebuah gang yang cukup besar. Bintang membelokkan mobilnya memasuki gang itu. Untunglah gang ini cukup lebar, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengikuti perempuan itu. Ia berhenti di depan sebuah rumah kontrakan sederhana bercat kuning gading. Ada beberapa pot tanaman yang disusun rapi di terasnya.

Perempuan itu membuka pagar dan masuk ke dalam. Seorang gadis kecil membukakan pintu. Aku yakin itu anaknya karena wajah mereka sangat mirip. Perempuan itu kemudian menutup pintu. Bintang memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah perempuan itu.

“Sekarang gimana?” tanya Bintang. “Kamu tetap ingin menemui perempuan itu?”

“Entahlah. Bagaimana sekarang?” aku balik bertanya. Bintang mengangkat bahunya.

“Terserah kamu saja.”

Aku berpikir sesaat sebelum mengambil keputusan.

“Bagaimana kalau kita menemuinya sekarang?” tanyaku. “Aku ingin bicara dengannya.”

“Bicara apa?” tanya Bintang.

“Aku ingin tahu apa yang membuatnya menginginkan ayahku atau kenapa ayahku menginginkan dia. Aku ingin meminta ayahku kembali.”

Aku rasa ini keputusan terbaik yang bisa aku buat untuk saat ini. Aku sudah terlanjur sampai di sini. Perempuan itu sekarang hanya berada beberapa meter di hadapanku. Aku harus memberanikan diri menemuinya.

Tahu-tahu aku dan Bintang sudah ada di depan rumah perempuan itu dan mengetuk pintunya. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak tahu apakah aku bisa bicara bila dia sudah ada di depanku.

“Ya? Mencari siapa?” tanya seorang gadis yang tadi membukakan pintu untuk perempuan itu. Rambutnya hitam sebahu dan wajahnya cantik.

“Eng… mencari, eng…,” aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Mencari Tante Mariska,” jawab Bintang singkat tapi cukup menolongku.

Gadis itu mengangguk tanda mengerti .

“Tunggu sebentar, ya,” ujarnya sambil beranjak ke dalam. Gadis itu mungkin hanya beberapa tahun di bawahku. Ia manis sekali. Sesaat kemudian perempuan yang kami cari dari semalam keluar menemui kami. Ia tersenyum ramah.

“Ada apa?” tanyanya.

“Saya ingin bicara dengan Anda. Ini sangat pribadi,” jawabku. Aku berusaha agar suaraku tidak menunjukkan kecemasan yang berlebihan walaupun kedengaran agak bergetar juga.

“Masalah apa?” tanyanya lagi.

“Tentang ayahku,”jawabku.

“Ayahmu? Siapa?” perempuan itu tampak bingung.

Aku menyebutkan nama ayahku dan mata perempuan itu membulat. Ia buru-buru menyuruh gadis kecil yang masih berdiri di belakangnya untuk masuk ke dalam. Ia kemudian langsung keluar dari rumahnya dan menutup pintu. Sekarang wajahnya tampak begitu serius.

“Bisa kita bicara di tempat lain saja?” pintanya. “Saya tidak ingin anak saya mendengar apa yang akan kita bicarakan.”

Ternyata benar, gadis kecil itu anaknya.

Aku menyetujuinya.

Kami kemudian berjalan menuju sebuah tempat makan kecil yang berada tidak jauh dari rumahnya. Perempuan itu tampak sedikit gugup.

“Dia tidak tahu kalau saya… seorang pelacur,” katanya pelan sambil duduk di sebuah bangku. Aku memilih untuk duduk di hadapannya. Bintang duduk di sampingku.

“Saya tidak menyangka kalau kalian akan mencari saya. Namamu Kelana, bukan? Ayahmu sering membicarakanmu.” Dia tersenyum.

“Aku ingin tahu tentang hubunganmu dengan ayahku,” kataku dengan suara yang sedikit ditekan.

“Kamu mau pesan apa?” tanya perempuan itu ketika seorang pelayan tempat makan itu mendekati kami. Aku menggeleng.

“Es teh manis tiga,” katanya pada pelayan itu. Pelayan yang sedikit tidak ramah itu bergegas ke dapur.

“Saya tahu kamu pasti akan menanyakan ini. Tapi kamu sudah salah sangka. Selain berteman, saya dan ayahmu tidak punya hubungan apa-apa lagi,” jawabnya dengan yakin seakan sudah mempersiapkan segalanya. Wajahnya pun tampak tenang. Tidak seperti bayanganku sebelumnya. Aku membayangkan wajahnya seperti pencuri yang ketahuan mencuri tapi tidak mau mengembalikan barang curiannya. Aku membayangkan ia akan membicarakan ayahku dengan garis bibir mengejek seakan ayahku adalah laki-laki bodoh yang dengan mudahnya meninggalkan anak dan istrinya hanya demi pelacur yang memang jauh lebih muda, cantik, dan menarik. Tapi tidak, wajahnya tidak seperti itu. Wajahnya tenang. Walaupun aku bisa menangkap getar tertentu dalam suaranya tiap kali ia menyebut nama ayahku. Aku tidak tahu getaran apa itu.  Perempuan ini membingungkanku.

“Tapi ayahku ingin menikahimu,” kataku dengan suara yang mulai meninggi.

Perempuan itu menggeleng. Raut wajahnya menyiratkan bahwa ia benar-benar yakin dengan apa yang dikatakannya. Raut wajah seperti ini bukanlah raut wajah yang dimiliki seorang pembohong. Apakah perempuan ini tidak berbohong?

“Itu hanya karena ia terlalu baik. Saya tidak pernah menemui seseorang yang lebih baik dari ayahmu. Dia tidak ingin menikahi saya. Percayalah. Dia mencintai ibumu. Sampai kapanpun akan tetap begitu. Kamu mungkin tidak akan percaya pada apa yang saya katakan. Tapi saya tidak pernah menggoda ayahmu dan kami tidak pernah berbuat apapun yang kamu takutkan itu.”

“Ayahku ingin anak perempuan darimu,” kataku lagi. Sekarang suaraku tercekat. Aku tidak tahu apalagi yang dapat aku katakan pada perempuan ini agar ia mengerti aku begitu membencinya. Perempuan itu terdiam sesaat. Mungkin ia sedang menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan padaku. Matanya yang coklat memandangku lembut. Seperti ketika Ibu memandangku. Aku membuang muka.

“Apakah kamu mau mendengarkan saya kalau saya katakan padamu yang sebenarnya? Saya tidak memintamu untuk mempercayai saya. Kamu cukup mendengarkan saja. Tapi saya pastikan kalau apa yang saya katakan padamu ini benar adanya,” kata perempuan itu kemudian.

“Baiklah,” kataku setuju. Toh aku hanya perlu mendengarkannya saja. Aku tidak perlu mempercayai ceritanya bila cerita itu memang tidak bisa dipercaya. Pelayan datang membawakan tiga gelas es teh manis untuk kami. Bintang yang kelihatan haus langsung menyambar salah satu gelas dan langsung menghabiskannya dalam beberapa tegukan saja. Aku bahkan tidak punya selera untuk minum.

“Saya pelacur. Kamu sudah tahu itu. Saya melacur untuk menghidupi anak saya. Dia bukan anak haram yang saya dapatkan dari melacur. Dia anak saya dan suami saya. Suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia sakit parah hingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan sebelum akhirnya dia meninggal.”

Perempuan itu terdiam sesaat. Wajahnya berubah menjadi sedikit sedih.

“Kami bukan orang berada,” lanjutnya. “Saya berhutang kesana-kemari untuk membayar biaya rumah sakit yang jumlahnya tidak sedikit. Saya tidak tahu kalau ternyata saya juga berhutang dengan jumlah yang sangat banyak pada seorang germo. Awalnya saya tidak tahu kalau dia itu germo karena dia sangat baik. Setelah suami saya meninggal, saya mencoba untuk melunasi hutang-hutang itu. Saya menjual rumah saya dan barang-barang yang ada di dalamnya, tapi itu belum cukup juga. Sisa hutang saya masih banyak. Dia memberikan bunga yang sangat tinggi pada saya.

Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia memaksa saya untuk melacur. Saya tidak bisa menolak. Dia mengancam saya. Semua uang yang saya dapatkan dari hasil melacur harus saya serahkan padanya. Untuk kebutuhan saya sehari-hari, saya mengandalkan tips yang diberikan tamu dan juga upah saya sebagai tukang cuci.

Mungkin ini terdengar tidak masuk akal buat kamu. Tapi itulah kenyataannya. Saya tidak ingin jadi perempuan yang sok suci karena nyatanya saya hanyalah seorang pelacur. Beberapa bulan yang lalu, saya kehilangan dompet saya. Saya tidak ingat di mana saya menjatuhkannya. Ayahmu mengantarkan dompet itu ke rumah saya. Ternyata dia menemukannya. Saat itu kami sempat berbincang-bincang. Ayahmu sangat baik hingga saya tidak ragu-ragu untuk menceritakan masalah saya padanya. Dia tampak begitu prihatin dengan keadaan saya. Setelah itu kami sempat bertemu beberapa kali tapi kami tidak pernah melakukan apapun yang kamu takutkan itu.

Dia hanya ingin membantu saya, juga anak saya. Tapi saya tolak tawarannya itu. Saya tidak bisa menerima bantuan seperti itu. Lalu dia mengajakku menikah dengannya hingga anak saya tidak akan kekurangan apapun dan dia bisa membayar semua hutang-hutang saya tanpa harus membuat saya merasa berhutang budi padanya. Tapi yang paling penting, ia berharap agar saya berhenti melacur.

Saya sangat senang mendengar tawaran itu. tapi saya juga tahu, dia punya seorang istri yang sangat dia cintai dan seorang anak laki-laki yang hebat. Saya tidak mungkin bisa masuk dalam kehidupan kalian. Apalagi dengan keadaan saya sekarang. Beberapa hari yang lalu ayahmu meminta alamat tempat saya melacur. Dia ingin bicara dengan germo saya. Saya berharap dia tidak akan pernah datang. Ini adalah masalah saya. Saya tidak ingin melibatkan ayahmu terlalu jauh,” perempuan itu bercerita dengan suaranya yang menyiratkan kepedihan.

“Kemarin malam aku datang ke lokalisasi dan melihatmu dengan beberapa orang laki-laki. Kamu tampak sangat menikmatinya,” kataku.

“Saya harus menyenangkan pelanggan saya agar saya bisa mendapatkan tips yang banyak. Saya juga harus tidur dengan beberapa laki-laki tiap malam agar saya bisa dengan cepat melunasi hutang-hutang itu,” jawabnya. Perempuan itu kemudian tertunduk.

“Aku tidak tahu harus percaya atau tidak,” kataku.

“Itu hak kamu. Tapi kamu harus percaya kalau ayahmu itu sangat baik,” katanya. Kemudian kami terdiam. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

“Kenapa kamu menceritakan semua ini?” tanyaku.

“Aku ingin kamu tahu dan tidak salah paham pada ayahmu.”

“Kamu harus percaya,” kata Bintang yang dari tadi hanya diam mendengarkan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena Tante Mariska tidak berbohong. Aku bisa merasakan dia tidak berbohong,” jawab Bintang.

* * *

 

~ by mataharimerahhati on January 12, 2008.

Leave a Reply