Catatan Satu: Kelana

Satu Hari Sebelum Hari Itu

 


     Aku mau mempercepat waktu.

     Agar satu menitnya terasa seperti satu detik. Satu jamnya terasa seperti satu menit. Satu harinya terasa seperti satu jam. Hingga aku tidak perlu menunggu terlalu lama.

Bayangkan, aku harus menunggu sampai besok!

     Tapi ini hanya sebagian kecil dari penantianku yang nyaris sudah sampai pada ujungnya. Aku sudah menanti selama hampir satu bulan. Aku sudah mencoba bersabar selama dua puluh sembilan hari. Sekarang aku hanya perlu bersabar untuk satu hari lagi.

     Satu hari memang bukan waktu yang panjang. Namun dalam penantian, satu hari akan terasa begitu lama. Seakan malam ini tidak pernah akan berakhir. Penantian selalu menyisakan kelelahan. Bukan. Bukan lelah menanti. Aku tidak lelah menanti. Aku lelah menenangkan hatiku yang seakan ingin melompat dari rongga dadaku setiap kali aku melihat arloji. Hatiku yang dipenuhi berbagai rasa hingga sesak. Membuat campuran rasa yang tidak dapat aku putuskan namanya. Mungkin itu gundah. Mungkin itu cemas. Mungkin itu bahagia. Mungkin itu ketakutan. Mungkin semua. Mungkin tidak satu pun. Entahlah. Semua berbaur. Menyatu. Membingungkan.

     Aku mau mempercepat waktu.

     Aku sedang menunggu, ya Allah.

     Sedang menunggu dengan cemas yang bertambah cemas.

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku yang dingin. Di luar hujan. Suaranya merambat melalui jendela. Menyusupkan butir-butir halus yang ringan dan lembab sehingga kamar ini menjadi semakin dingin.

     Aku beralih memandang langit-langit kamar. Ada beberapa noda kecoklatan membentuk lingkaran-lingkaran dengan berbagai ukuran. Bekas bocor. Noda-noda itu saling tumpang tindih. Saling bertemu. Membentuk gradasi warna yang lebih tua di tiap tempat bertemunya.

Aku menutup mataku.

     Malam ini terasa berat buatku. Entah kenapa. Atau hanya karena aku sedang menunggu?

     Hening.

     Terdengar samar-samar suara ibuku berdzikir lirih dari kamarnya yang berada di sebelah kamarku. Lalu suara binatang malam.

***

 

~ by mataharimerahhati on January 12, 2008.

Leave a Reply