Matanya Berwarna Coklat
Matanya berwarna coklat. Bukan coklat muda seperti yang disukai kebanyakan orang. Tapi coklat. Coklat tua. Coklat yang benar-benar coklat.
Pertama kali aku melihat matanya, adalah sore itu. Ketika itu langit cerah dan semburat cahaya matahari menerpa matanya. Seperti ruang kosong yang kemudian terisi cahaya, matanya menjadi begitu jelas buatku. Coklat. Benar-benar coklat.
Bila aku melihat matanya, aku akan teringat pada coklat yang sangat aku suka. Bulat matanya mengingatkanku pada bola coklat yang berisi kenari. Coklat yang sangat enak.
Kadang, kalau aku melihatnya tersenyum, maka coklat mata itu akan berbinar. Seperti coklat batangan yang meleleh terkena hangatnya kegembiraan. Kadang aku lihat, coklat mata itu begitu muram. Lebih muram daripada hitam.
Aku mengisi sore ini dengan berharap dia akan meneleponku. Walaupun aku tidak akan melihat matanya, tapi aku akan mendengarkan suaranya. Dan ketika itu aku akan membayangkan bagaimana mata itu akan bergerak ke kanan dan ke kiri. Mengerjap senang, atau pun membulat riang.
Aku membuat coklat panas dan duduk di samping jendela. Cahaya matahari sore masuk dan menembus gorden tipis jendela rumahku. Di sampingku, ada sebuah lukisan yang belum selesai. Cat-cat yang berantakan. Kuas yang tegeletak di lantai. Sebuah sketsa lukisan mata. Mata yang bulat bercahaya. Ini adalah mata yang sedang gembira.
Aku belum bisa melanjutkannya. Entah kenapa, aku tidak bisa menemukan warna coklat yang tepat untuk mewarnai lukisan itu. Semua warna coklat sudah aku coba. Aku mencampurkan hijau muda dengan merah, tapi bukan coklat seperti itu yang aku mau. Aku juga mencampurkan kuning dengan ungu. Tapi aku tidak mendapatkan warna coklat yang persis sama seperti matanya.
Terdengar suara pintu diketuk. Gadis beramata coklat itu berdiri di depan pintu dan tersenyum. Gaunnya ringan melayang berwarna merah muda dengan motif berwarna putih. Entah apa motifnya, mungkin kupu-kupu. Mungkin juga bunga kecil yang sedang mekar.
Dia masuk dan duduk di sofaku. Membiarkan aku melihat matanya dalam-dalam. Matanya bercahaya. Bukan karena matahari sore kembali menerpa matanya dan membuatnya mengerjap-ngerjap silau, tapi karena si pemilik mata sedang gembira.
Dia bercerita tentang siang hari yang menyenangan buatnya. Tentang bunga. Tentang kucing. Entah tentang apa lagi. Kadang aku tidak bisa mendengarnya karena aku terlalu sibuk dengan matanya. Kadang aku berharap matanya saja yang bicara. Yang menyampaikan semua cerita.
“Apa masih ada kopi?” tanyanya. Berdiri dan melihat ke arah gelasku.
“Coklat,” jawabku. Aku mengangkat sedikit gelasku. Dia tersenyum.
“Bisa sakit gigi nanti.” Dia berjalan ke arah lukisanku yang belum selesai. Melihatnya beberapa saat.
“Mata?” tanyanya. Aku mengangguk. “Indah.”
Aku tersenyum. Aku ingin sekali mengatakan kalau itu adalah matanya. Tapi aku urungkan niat itu. Aku membiarkan dia mengagumi lukisan itu. Yang belum aku warnai sama sekali. Kalau sudah jadi, aku ingin sekali memberikan untuknya sebagai hadiah. Aku berjalan ke dapur. Dia mengikutiku dari belakang. Gaunnya melayang ringan seirama gerakan kakinya yang mulus dan panjang. Rambutnya yang hitam terurai sampai ke pinggang.
“Coklat?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.
“Kenapa jadi suka coklat?” tanyanya. Aku tediam sesaat. Aku melihat ke dalam matanya yang berwarna coklat tua. Aku berusaha mengingat kapan awalnya aku menyukai coklat. Seingatku, aku tidak menyukai yang manis-manis.
“Hmm… lagi bosen. Pengen coba yang lain.”
“Susu?” tanyanya lagi. Dia mengambil sendok dari tanganku dan menakar coklat bubuk yang akan aku masukkkan ke gelas. Dia mengambil tiga sendok. Aku menambahkan gula dan menyeduhnya dengan air panas.
“Terlalu putih.”
Dia tertawa.
“Susu coklat?” tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak.
“Masih terlalu putih.”
“Kopi?”
“Terlalu hitam.”
Dia terdiam. Aku berusaha mengerti jawabanku sendiri. Agak aneh mengomentari makanan dari warnanya. Karena warna tidak ada urusan dengan rasa. Sama anehnya dengan memberi jawaban; agak hijau kecoklatan untuk pertanyaan tentang rasa gado-gado.
Malamnya, aku berusaha menyelesaikan lukisan itu. Aku mencampurkan warna. Mengulang campurannya. Memberi bahan pewarna lain. Tapi hasilnya belum memuaskanku. Akhirnya aku mencoba mewarnainya dengan coklat. Aku membeli berbagai jenis coklat dari berbagai merek. Mencobanya satu per satu. Warnanya memang mendekati. Tapi aku belum menemukan apa yang aku mau. Aku ingin warna coklat itu lebih coklat, lebih tajam, lebih… aku bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang aku mau.
Putus asa, aku pun merebahkan tubuhku di tempat tidur dan berusaha tidak mengingat-ingat masalah campuran warna itu lagi. Aku bermimpi tentang langit yang coklat, tanah, buah, bunga, pelangi, semuanya coklat. Coklat yang indah. Coklat yang aku inginkan. Coklat seperti matanya.
Ketika aku bangun, aku melihat kamarku berantakan oleh coklat. Coklat meleleh di mana-mana. Banyak semut. Aku pun keluar dan duduk di sofa ruang tengah. Matahari sudah tinggi. Angin agak kencang. Ini bulan Februari. Musim penghujan. Aku berharap hujan turun deras malam ini. Agar aku bisa tidur nyenyak dan kembali bermimpi. Kepalaku pusing. Aku memutuskan untuk membuat secangkir coklat panas. Dilanjutkan dengan cangkir yang kedua. Sampai aku kenyang dan merasa agak kembung. Minum sebanyak ini bukan kebiasaanku.
Tidak ada coklat yang seindah coklat matanya.
Sore itu, aku memutuskan untuk membuang lukisanku sekaligus keinginanku untuk menggambar matanya. Ketika dia datang sebentar untuk mengembalikan buku yang dia pinjam, aku memanfaatkan waktu yang sebentar itu untuk menatap matanya. Dan ketika dia tidak pernah datang lagi, entah kenapa, aku pun menyesal kenapa tidak kucongkel saja matanya dan kuletakkan di toples berisi formalin agar bisa kutatap tiap kali aku ingin.
Tapi dia tidak pernah datang lagi. Aku pun mulai lupa bagaimana indah coklat matanya. Aku bahkan mulai melupakan itu. Aku memulai suatu pagi dengan meminum secangkir coklat panas terakhir yang aku punya sambil berpikir untuk pergi ke pantai. Mungkin lebih baik buatku untuk menggambar biru, bukan coklat.

aku mmang lebih suka makan coklat ketimbang warna coklat
Coba baca cerita fiksiku di blog yg berjudul “Diorama Dua Hati”
aku suka keduanya. kamu suka coklat apa? kalo aku Van Houten
Hm, pemikiran yang terakhir itu ..
.. terkadang menginspirasikan untuk hal-hal yang tidak baik, misalkan mutilasi, dll. Na’uwdzu billaahi min dzaalika.
ah, terlalu berburuk sangka nih


toh, kadang pikiran kita juga tidak menjamin semua tindakan kita karena pikiran adalah proses juga. misalnya ketika kita berpikir untuk mencuri, it doesn’t mean kalo kita bakalan mencuri kan?
karena di dalam pikiran semua gagasan itu diolah, maka berpikir lebih ditekankan pada proses itu sendiri. Allah kan tidak menilai proses berpikir kita karena apapun bisa kita pikirkan di sana, tapi apa yang kemudian kita pahami, kita percaya, dan kita peroleh dari sebuah proses tadi itu lebih penting.
seorang dokter juga me-”mutilasi” mayat bahan pelajarannya. ini proses pembelajaran. tapi kemudian, hal itu tidak membuat seorang dokter menjadi ahli mutilasi kan? hasil dari apa yang dipelajari dengan me-”mulitasi” itu kemudian menjadi lebih besar menfaatnya.
kadang, aku pikir Arif tidak membaca apa yang tulis secara keseluruhan, terlihat dari komentarnya
padahal, pemahaman dari apa yang dituliskan tidak tergambar dari satu atau dua paragraf saja. bahkan mungkin sebuh buku pun belum menggambarkan seluruh pemahaman akan pemikiran.
jangan terlalu berburuk sangka, ah
toh, kalau aku membuat novel tentang pembunuhan, aku kan tidak sedang menyuruh semua pembaca untuk membunuh.
Allah bilang, “IQRO” (iqro-nya bukan sembarang iqro. iqro pake nama Allah). baca dulu, pahami dulu.
oh ya, terakhir. ini kan cerpen. aku berusaha menggambarkan apa yang dipikirkan tokohku, bukan apa yang aku pikirkan. walaupun ini memang bias.
eh, kamu udah lama nggak keliatan
Hm, itu ungkapan dari lintasan hati saja, mengingat saat ini banyak berita atau tayangan yang juga menginspirasikan hal tersebut. Takut juga, karena ketika terbiasa mendengar/membaca/memperhatikan hal-hal seperti itu, terkadang takut terseret juga. Wallaahu a’lam.
Namun memang pikiran jelek sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut atau dibiasakan. Tapi hendaknya segera beralih kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Sehingga tidak terseret pada pikiran jelek itu.
Adapun yang kusaksikan di banyak tayangan TV saat ini menggambarkan hal-hal yang buruk. Hampir setiap hari ada berita tentang pemb*n*han, dll; Hm, seolah-olah itu menjadi hal yang wajar. Padahal dalam Islam, membunuh jiwa tanpa haqq merupakan salah satu dosa besar. Wallaahu a’lam.
Sekarang sudah berusaha jarang melihat TV
Namun ketika ada teman yang menonton, sering sekali “tergoda”
(Beberapa waktu ini ada beberapa berita pemb*n*han sadis juga, hiks, terus-menerus lagi
)
Mungkin itu juga menginspirasikan adanya komentar di atas
BTW, maksud “udah lama nggak keliatan”? Sering keliatan kok, terutama di y!m
bagus..