RASHOMON: Tinjauan Latar Belakang Adaptasi Cerita

•January 19, 2008 • Leave a Comment

If anyliving director can rigthfully claim to represent the cinema of Japan throughout the world, that director can only Akira kurosawa. His Rashomon opened the eyes of the international public to the extistence of a major film industry in Japan, and since that relevation it has always been his films that found the earliest and widest distribution as well as the widest praise.

Film Rashomon diangkat dari skenario yang ditulis oleh Shinobu Hashimoto yang idenya diadaptasi dari cerita pendek modern Jepang yang ditulis oleh Ryunosuke Akutagawa (1892-1927). Naskah asli dari Hashimoto ini awalnya berjudul “Male-Female”, yang berisi gabungan dari tiga episode dari cerita pendek Akutagawa yang berjudul “The Grove”. Kurosawa lalu bekerja sama dengan Hashimoto untuk mengembangkan cerita itu lebih lanjut dengan memasukkan ide-ide lain dari cerita pendek Akutagawa yang lain, “Rashomon”.

Akutagawa membuat setting Rashomon, setidaknya, satu abad di atas cerita aslinya dalam Konjaku Monogatari. Zaman tersebut, yaitu pada abad ke-12, dipilih dengan alasan bahwa pada masa itu terjadi krisis sosial sebagai akibat dari bencana alam, kebakaran besar, dan gempa bumi yang melanda Jepang. Di Kyoto, ibu kota Jepang saat itu, juga terjadi berbagai konflik politik di antara para penguasa. Cerita ini menjadi penggambaran keadaan yang begitu syulit, sampai-sampai pada saat itu, orang rela menjual simbol-simbol keagamaan—yang seharusnya disucikan—untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Melalui dialog yang mengomentari penderitaan masyarakat di ibukota dan melalui penggambaran gerbang kota—yang seharusnya begitu monumental—dalam keadaan rusak, Rashomon juga sedang menegaskan tentang keadaan sosial masyarakat di akhir era Heian, sebuah era dengan pencapaian tingkat kebudayaan yang tinggi.

His innovation with the Konjaku material provide a dramatized inner potraid of the protagonist’s reactions and rationalization. Evil accumulates over the series of events that lead to his decisive crime. The inexorable march of the event points to the conclusion that predation is a universal law of life. (James Goodwin, 1965, Akira Kurosawa and Intertextual Cinema, hal. 121)

Kurosawa harus menunggu cukup lama hingga Rashomon dapat difilmkan. Ketika skenarionya selesai ditulis, budget selesai diperhitungkan, namun kemudian, pada tahun 1948, produksi film ini dibatalkan karena Takoyo Company, sebuah perusahaan film kecil yang awalnya bersedia untuk memproduksi film ini, mengundurkan diri dengan alasan bahwa film ini beresiko amat besar.

Setelah memproduksi Scandal, Kurosawa menunjukkan kepada Daiei, sebuah perusahaan film yang akhirnya bersedia membiayai produksi Rashomon, sebuah skenario, yang akhirnya menjadi sebuah karya monumental.

Kurosawa berkata: “It was a bit too short… but all my friends liked it very much. Daiei, however, did not undersatand it and keep asking: But what is it about? I made it longer, put on a beginning and an ending—and they eventually agree to make it.”

Bahkan produser film ini, Masaichi Nagata, meninggalkan ruangan pada saat pemutaran pertamanya dan mengatakan betapa sedikitnya hal yang ia tahu tentang film ini (mungkin dapat dikatakan sebagai kalimat yang memperhalus kata: tidak mengerti). Namun, Rashomon mendapat penghargaan di luar negeri dan sampai sekarang tetap menjadi salah satu film yang monumental dalam perkembangan sejarah film dunia.

Hal yang paling menarik dari film ini adalah struktur naratifnya, di mana digunakan empat point of view dalam menceritakan satu kejadian yang sama. Tiap tokohnya mempunyai versinya masing-masing. Kekuatan film pada struktur naratif ini diperkuat oleh kharisma penulis asli cerita ini, Ryunosuke Akutagawa, seorang sastrawan Jepang yang sangat terkenal. Berdasarkan cerita pendek yang ditulis oleh Akutagawa, penulis skenario film ini, Shinobu Hashimoto, membuat skenarionya.

The beginning of Rashomon lie in the storis of Ryunosuke Akutagawa, that brilliant and erratic stylist who died, a suicide of thirty-five, in 1927. His position in Japanese letters, though secure, has always been special—as special as Poe in Amerika or Maupassant in France. He has always been extremely popular and also critically well-though-of, almost despite his popularity. Yet he has never been considered in the “main stream” of Japanese literature. His defenders point out his inventive style; his detractors call him “Western” in his orientation. He is “Western” in the same way Kurosawa: he is concerned with truths which are ordinarily outside Pragmatic Japanese morality and, being concerned with them, he questions them. This he does with involuted, elliptical style, the essense of which is irony.” (Richie, 1965)

Shinobu Hashimoto dan Akira Kurosawa lalu mengembangkan cerita pendek yang ditulis Akutagawa, yaitu “In a Grove” dan “Rashomon” menjadi sebuah skenario yang siap difilmkan. Walaupun Rashomon dapat dikatakan sebagai film yang mengandung nilai sejarah dan klasik dalam cerita dan setting, namun metode penceritaannya—atau dapat pula dikatakan sebagai struktur naratifnya—sangat modern.

For me… adventure is spectacle in historical film, while in the modern film adventure is more often metaphysical, moral, and social in nature.” (Goodwin, 1994)

Sepanjang karirnya, dalam membuat film yang dapat dikatagorikan sebagai jidai-geki, Kurosawa selalu mengembangkan dimensi modernitas yang menghasilkan hubungan penting antara filmnya dan realitas kontemporer yang ada. Kurosawa menggabungkan antara action dan petualangan sebagai esensi dari nilai dinamiknya dengan ketegangan, dan formula yang biasa digunakan dalam genre misteri. Walaupun Rashomon adalah adalah cerita dengan subject-matter dan setting yang mempunyai nilai historis dan klasik, namun metode naratif yang digunakan sangat modern.

Cerita ini berawal dari tiga orang yang menunggu hujan reda di sebuah gerbang kota yang sudah rusak. Ketiga orang itu adalah seorang rakyat jelata, pendeta dan penebang kayu. Awalnya si penebang kayu menceritakan kejadian di hutan, antara seorang samurai (Takehiro), istrinya (Masago), dan seorang bandit (Tojomaru) kepada si rakyat jelata. Si penebang kayu adalah orang yang menemukan barang bukti dan mayat si samurai di hutan. Asosiasinya terhadap kejadian itu adalah setelah kejadiannya berlangsung. Sementara dia dan si pendeta adalah orang saksi atas apa yang terjadi di halaman pengadilan, tempat orang yang terlibat dengan kasus pembunuhan dan pemerkosaan ini diperiksa dan diadili. Si pendeta ikut bercerita tentang kejadian ini dari sudut pandang spiritualitasnya. Si rakyat jelata tertarik dengan cerita ini dan membuat pernyataan bahwa manusia tidak bisa mengatakan kebenaran, bahkan pada dirinya sendiri, dan setiap pengakuan di halaman pengadilan itu sangat mungkin mengandung kebohongan.

Bagian yang penting dari Rashomon adalah cerita yang diceritakan kembali sebanyak empat kali, dengan empat versi yang berbeda. Bandit Tojomaru, samurai, dan istri si samurai menceritakan versinya masing-masing. Orang ke-empat yang juga ikut bercerita sebagai saksi adalah si penebang kayu yang berada di tempat kejadian ketika peristiwa itu terjadi. Mereka berempat tidak sepakat tentang bagaimana kejadian pembunuhan itu terjadi dan siapa yang membunuhnya, namun mereka mempunyai cerita yang sama tentang peristiwa pemerkosaan (si bandit benar telah memperkosa istri si samurai) dan pembunuhan itu (bahwa yang dibunuh adalah si samurai).

Cerita ini lalu berputar-putar tentang siapa yang membunuh si samurai: si bandit Tajomaru mengaku telah membunuh si samurai, istri samurai mengaku telah membunuh suaminya, dan si samurai sendiri—dalam pengakuannya melalui medium—mengaku telah membunuh dirinya sendiri.

Truth as it appears to others. This is one of the themes, perhaps the main one of this picture. No one—priest, woodcutter, husband, bandit, medium—lied. They all told the story the way they saw it, the way they believed it, and they all told truth. Kurosawa therefore does not question truth. He questioned reality. (Donald Richie, 1965, The Film of Akira Kurosawa, hal. 75)

Si penebang kayu bercerita bagaimana ia datang ke hutan dan menemukan topi wanita, tali dan tempat perhiasan tergeletak begitu saja di jalan. Kemudian ia pergi ke kantor polisi untuk melaporkan penemuannya. Di sana ia menambahkan bahwa ia juga menemukan sesosok tubuh. Keterangan pendeta sejalan dengan apa yang sudah di katakan si penebang kayu ini. Ia bercerita bahwa ia melihat seorang ptia dan istrinya berjalan di hutan. Seorang agen polisi yang dijadikan saksi juga bercerita tentang bagaimana ia menangkap si bandit Tajomaru. Namun Tajomaru menolak apa yang dikatakan si agen polisi. Ia memberikan cerita yang berbeda tentang bagaimana ia telah ditangkap. Lalu ia melanjutkan dengan menceritakan peristiwa itu dari sudut pandangnya.

Ia bercerita bahwa sedang tidur di bawah pohon ketika seorang pria dengan istrinya lewat; angin meniup penutup wajah sang istri, memperlihatkan wajahnya yang cantik, si bandit Tajomaru melihat itu dan membuatnya menginginkan wanita itu. Ia lalu menipu suami wanita itu untuk mengikutinya dan menjebaknya. Ia mengikat pria itu. Ia lalu memperkosa wanita itu di depan suaminya, dan setelah itu ia berniat untuk segera pergi. Namun wanita itu menghentikannya. Wanita itu berkata bahwa kehormatannya bergantung pada pertarungan mereka; si bandit Tajomaru dan suaminya. Mereka lalu bertarung. Dalam pertarungan itu, si bandit berhasil membunuh suami wanita itu. Si wanita lalu melarikan diri.

Versi kedua dari peristiwa ini diceritakan oleh istri si samurai. Ia memulai cerita dari kejadian setelah suaminya diikat oleh Tajomaru dan ia diperkosa. Ia berkata bahwa setelah itu si bandit Tajomaru pergi dan suaminya sendiri mencampakkannya karena dengan begitu mudahnya ia dinodai laki-laki lain. Ia membunuh suaminya itu karena sedih dan merasa dikecewakan. Ia pun lalu kabur sampai polisi menemukannya.

Versi yang ketiga adalah pengakuan si samurai yang diceritakan melalui seorang medium. Dia bercerita bahwa setelah pemerkosaan itu, si bandit dan istrinya sempat bercakap-cakap. Si bandit Tajomaru mengatakan bahwa ia ingin wanita itu ikut dengannya. Wanita itu setuju dan memaksa si bandit Tajomaru untuk membunuh suaminya. Hal ini membuat Tajomaru marah lalu meninggalkan istrinya begitu saja. Istrinya pun lalu pergi. Si samurai lalu menemukan pedang istrinya dan bunuh diri dengan itu. Tak lama kemudian, setelah menusuk dirinya dan terkapar beberapa saat, ia merasa seseorang menarik pedang itu dari tubuhnya.

Versi yang keempat adalah pengakuan si penebang kayu yang kembali bersaksi. Ia bercerita bahwa setelah pemerkosaan itu, ia melihat si bandit Tajomaru berlutut di hadapan si wanita, meminta wanita itu untuk ikut dengannya. Wanita itu berkata bahwa ia tidak bisa memutuskan; hanya para lelaki yang bisa membuat keputusan. Akhirnya si bandit dan samurai bertarung dan si bandit Tajomaru berhasil membunuh si samurai. Wanita itu lalu kabur dan si bandit juga meninggalkan tempat itu.

Cerita ini ditutup dengan adegan di gerbang kota. Si pemotong kayu menemukan seorang bayi yang ditinggalkan seseorang di sana dan mengambilnya. Ia berkata bahwa ia akan membawa bayi itu pulang. Si pendeta berkata bahwa apa yang dilakukan si pemotong kayu itu akan menjadi penghapus kesalahannya. Film ini lalu ditutup dengan adegan ketika hujan berhenti turun, sinar matahari memancar terang, dan si pemotong kayu pergi sambali menggendong bayi yang ia temukan.

The most frequent objection to Rashomon is that the woodcutter’s act of goodness comes as hasty, sentimental, and false gesture. The ending is discredited as inconsistent and unpersuasive in the context of the craven egoism and moral relativism shown in the course of the film. Presumably the infant has remained hidden in a recess of the gate for the duration of the storytelling. With fortuitous timing, the infant first cries at the point of narrative where all hope for humanity seems lost. Reacting to such a last-minute plot artifice, the director Masahiro Shinoda has described Rashomon as a monument to Kurosawa’s “simplistic humanism”.

The closing action brings an end to a paradoxical narrative representative of fragmentation and multiplicity in human experience…. (James Goodwin, 1994, Akira Kurosawa and Intertextual Cinema, hal. 139)

Inti film ini adalah pengakuan enam orang yang berbeda tentang satu peristiwa. Dengan ambiguitas kenyataan seperti ini, semua versi penceritaan kemudian dapat dibenarkan karena setiap orang menangkap suatu peristiwa dengan sudut pandangnya sendiri—sangat subjektif. Hal ini juga tidak bisa disalahkan karena bagimanapun manusia punya kemungkinan yang sama untuk mengedepankan sunjektivitasnya—yang secara langsung atau tidak langsung, dalam porsi tertentu—mengaburkan kenyataan yang sebenarnya. Dalam film ini, kenyataan—yang merupakan kenyataan personal yang kemudian sadar atau tidak sadar dipercayai masing-masing orang sebagai kenyataan yang benar-benar kenyataan—satu dan lainnya saling bertentangan. Antara ilusi dan kenyataan menjadi tidak berjarak.

In all Kurosawa’s picture there is pre-occupation with the conflict beetwen illusion (the reaction of the five and their stories) and reality (the fact of the rape and murder). To do something is to realize that it is far different from what one had though. To have done something and then to explain it completes the cycle because this is (equally) different from what the thing itself was. Given a traumatic experience, one fraught with emotional connotations (murder, falling in love, bankruptcy, rape) reality escape even more swiftly. (Donald Richie, 1965, The Film of Akira Kurosawa, hal. 75)

Rashomon adalah film yang dibuat pada pasca Perang dunia II, di mana Jepang dalam masa pemulihan setelah negaranya diluluh-lantakkan oleh Sekutu. Sebuah perubahan besar terjadi di negara itu, di mana awalnya adalah sebuah negara yang mempunyai kekayaan dan kebanggaan lalu berubah menjadi salah satu negara yang kalah perang dan hancur total. Jepang lantas melakukan pembangunan dengan cepat untuk memperbaiki semua hal yang hancur dan rusak selama perang. Salah satunya adalah perekonomian.

Secara singkat perubahan yang terjadi di Jepang pasca Perang Dunia II dipaparkan oleh J Victor Koschmann:

Sulit membayangkan satu contoh dikontinuitas historis yang lebih memilukan dari pengalaman rakyat Jepang setelah menyerahnya pemerintahan mereka pada tanggal 15 Agustus 1945. Dengan kekalahan dan pendudukan sepenuhnya oleh bekas musuh yang kini bertekad membangun kembali mereka sesuai kehendak hatinya, mereka menghadapi satu era perubahan tanpa tara, bahkan pun oleh revolusi Meiji pada akhir abad ke sembilan belas. Di antara tujuan pendudukan itu adalah “demokratisasi”, dan Jendral Douglas McArthur sebagai Panglima Tertinggi Sekutu (SCAP) sama sekali tidak mau membuang waktu. Perintah pertamanya bagi reformasi dikeluarkan pada Oktober 1945, dan menjelang akhir tahun yang sama kebanyakan pilar utama absolutisme kekaisaran telah masuk dalam daftar yang akan dihancurkan: konstitusi harus ditinjau kembali, Shinto sebagai agama negara digoyahkan, pemilikan tanah harus direformasi, zaibatsu dihancurkan, golongan pendukung militer disingkirkan, kaum perempuan diberi hak suara, buruh di dorong untuk mengorganisasikan diri, dan pendidikan diubah. Tetapi partisipasi rakyat dalam demokrasi itu tidak banyak.

Kenyataan bahwa pembebasan dan absolutisme bukannya berasal dari orang-orang Jepang sendiri ternyata telah menimbulkan implikasi-implikasi yang sangat jauh. Tidak hanya spontanitas dan kesadaran demokrasi menunjukkan, secara paradoks, bahwa demokrasi itu bukan pilihan bebas dari rakyat yang bebas, melainkan dipaksakan oleh kekuasaan dan kewenangan absolut dari SCAP dan dengan tenang diterima di seluruh pelosok negeri oleh rakyat yang secara tradisional selalu patuh pada penguasa.

Keadaan ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada industri film. Bahwa pemulihan ekonomi, politik, dan sosial di Jepang pasca Perang Dunia II juga membawa pengaruh pada pola pikir rakyat Jepang saat itu. Namun Para ahli tentang Jepang banyak yang mengemukakan bahwa pola-pola pikiran dan tindakan yang berkembang pada masa sebelum Perang Dunia II masih tetap berpengaruh pada masa pasca perang di Jepang, tidak hanya di kalangan pemerintah, tetapi juga dalam etos dan perilaku yang tipikal menunjukkan protes. Dalam hal ini bisa dilihat bahwa ada hal-hal yang tidak berubah walaupun pengaruh barat sudah masuk di Jepang. Cerita Rashomon yang mengambil setting pada periode Heian, yang berarti adalah sekitar abad ke dua belas, adalah contohnya. Modernisasi yang masuk ke Jepang, proyek pem-barat-an Jepang, ternyata tidak mengubah tradisi yang ada di Jepang.

Pada tahun ketika Rashomon dibuat, rakyat Jepang sedang berada pada situasi di mana negara barat—dalam hal ini Amerika Serikat—tampak begitu hebat. Pasti ada kecenderungan untuk mengikuti hal-hal yang dimiliki negara itu. Dalam hal perfilman, film-film Hollywood—yang telah melewati masa kejayaannya pada tahun 30-an—bisa menjadi contoh steriotip bahwa begitulah film seharusnya dibuat. Namun, Rashomon menjadi beda ketika ternyata budaya Jepang—dengan samurainya, harakirinya, dan kostum adatnya—ternyata masih diangkat sedemikian rupa dalam sebuah cerita yang naratifnya sangat modern. Terjadi dua hal di sini; di mana kebudayaan Jepang tetap dipertahankan dan modernitas tidak dibatasi juga. Sampai sekarang kita masih bisa melihat bahwa Jepang yang begitu modern tidak lantas begitu saja melupakan budayanya.

Pernyataan Janet Hunter bahwa: “Most Japanese have had no wish blindly to imitate western social customs and attitudes” dapat dipertanyakan lagi. Walaupun benar, mungkin dapat dipertanyakan sejauh mana mereka meng-imitasi barat dan kemudian menjadi barat.

Perbaikan ekonomi yang sedemikan cepat di Jepang juga memungkinkan penciptaan film ini. Bahwa pada enam tahun setelah negeri itu jatuh dan luluh-lantak, mereka memperbaiki keadaan hingga mempunyai keuangan yang memadai untuk membuat film—bila dibandingkan dengan Indonesia, yang kerusakannya tidak separah Jepang pasca Perang Dunia II, yang ketika itu masih sibuk dengan hal-hal yang sifatnya sangat dasar seperti pangan, pemerintahan dan lain-lain—yang bermutu bukan hanya dari segi teknis tapi juga dari ceritanya.

Even the most optimistic forecasters, though, never expected the Japanese to change their mode of social operation overnight. Legal reform was a prerequisite for social change, but not automatically the immidiate precursor of it. While the constitutional and legal changes laid the foundation for a breakdown of the dominance of the household and for the grater individual right, especially for woman, considerable importance still attaches to some of the characteristics noted in the prewar period, albeit with modification. (Hunter, 1989)

Jepang dapat memperbaiki ekonominya dengan sangat cepat. Tahun 1950-an hingga 1960-an perbaikan ekonomi ini menyebabkan Jepang menjadi negara yang dapat memperbaiki keadaannya setelah Perang Dunia II dengan sangat cepat.

During 1950’s and 1960’s, high rates of economic growth had been boadly popular within Japan. In addition to the psychological gratification gained from an ever-expanding GNP, there had been more tangible benefits for the people as well… After scrambling for day-to-day survival in the immediate postwar years, most Japanese haousehold had now manage to acquire the ‘three electric treasures”: a refrigerator, a washibng machine, and a black and white television set. (Waswo, 1996)

The post 1945 years have produced a fundamental restructuring of the pattern of economic activity on a scale never achieved by the prewar industrilization. (Hunter, 1989)

Keadaan Jepang yang pulih demikian cepat dari Perang Dunia membuat banyak hal yang terjadi di negara itu. Jepang kemudian menjadi negara yang sangat kaya. Penduduknya mempunyai income per kapita yang berubah naik dengan sangat cepat. Dalam kondisi seperti ini film sudah dapat dipastikan menjadi sebuah bisnis juga di sana. Film yang baik adalah film yang tentunya menghasilkan banyak uang dan Kurosawa sebagai seorang sutradara hebat selalu dapat membuat film-film yang menghasilkan banyak keuntungan. Industri film di Jepang pun berkembang.

Rashomon sebagai salah satu hasil karya di bawah industri film tersebut juga diharapkan menghasilkan uang yang banyak. Dan Rashomon bisa membuktikan hal itu. Film ini menjadi film Jepang yang berhasil menang pada festival film di luar Jepang.

Penggunaan cerita yang mempunyai latar belakang sejarah Jepang pada Rashomon tentu sengaja dilakukan dan bukan tanpa maksud apa-apa. Masyarakat Jepang pasca Perang Dunia II digambarkan hampir sama dengan apa yang ada di cerita Rashomon walaupun berada pada dua periode yang sangat jauh berbeda. Pada film ini digambarkan bahwa Jepang sedang mengalami krisis. Hal ini dapat dilihat dari penggambaran gerbang kota yang dalam kondisi tidak baik dan setengah hancur. Hal ini bukanlah sebuah pertanda baik tentang keadaan ekonomi pada saat itu karena sebagai pintu masuk ke sebuah kota, gerbang kota haruslah mencerminkan keadaan kota yang dipagarinya. Gerbang kota yang rusak, dapat diartikan bahwa keadaan kota di dalamnya juga sama rusaknya, sama tidak terawatnya. Jepang pasca Perang Dunia II dapat disamakan dengan gerbang kota tersebut di mana keadaan ekonomi morat-marit—wajar sebagai dampak dari kekalahan perang dan Jepang berhasil memperbaikinya dengan sangat cepat—dan keadaan sosial masyarakat yang tidak baik.

Ketika keadaan ekonomi sedang tidak baik, maka dampak yang pertama kali terlihat adalah banyaknya kejahatan akibat pengangguran. Bagaimanapun rakyat butuh makan dan keadaan pasca perang tidak menjanjikan apapun yang lebih baik. Lapangan pekerjaan tidak ada. Bangunan-banguan pabrik dan kegiatan perekonomian Jepang saat itu lumpuh.

Dalam Rashomon semua tergambar sama: bahwa keadaan tidak bagus dan kejahatan merajalela. Walaupun sebenarnya bila ditunjau lebih jauh, konteks kejahatannya beda. Pada pasca Perang Dunia II, pastilah kejahatan yang lebih dominan adalah kejahatan dalam hal ekonomi; perampokan, pencurian dan lain-lain, sementara dalam Rashomon yang digambarkan adalah kejahatan moral: pemerkosaan. Namun ke-dua hal ini punya hubungan, di mana kejahatan terjadi pada suatu tempat dan saat di mana kondisi yang ada tidak baik dan membuat tertekan orang-orang yang ada pada kondisi tersebut.

Perbaikan ekonomi yang cepat lebih berdampak pada keadaan masyarakat yang lebih teratur dan aman. Rashomon dibuat dalam latar belakang kehidupan ekonomi yang cukup aman walaupun dapat dikatakan belum pulih benar dari trauma perang. Isu-isu demokratisasi politik dan perubahan sistem pemerintahan menjadi latar belakangnya, namun Rashomon sama sekali tidak menyinggung hal itu. Ia mempertanyakan hal lain di luar hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dan politik dan perubahannya yang sangat menarik itu: Kurosawa malah mempertanyakan tentang kenyataan.

Namun Rashomon bukanlah film yang menentang keadaan yang ada dan memberikan fantasi berlebihan tentang mimpi. Rashomon tetap aktual dalam konteks zaman karena pemulihan diri pasca perang juga berkaitan dengan pemulihan kepercayaan terhadap diri sendiri. Pangaruh barat sangat terasa waktu itu. Amerika Serikat sebagai negara yang menang perang tentulah sangat menarik untuk diimitasi atau setidaknya dicontoh beberapa bagian dalam kebudayaannya, ekonominya, politiknya. Jepang mencontoh hal-hal ini dan kemudian menjadikannya sejajar dengan negara yang dicontohnya. Namun Rashomon tidak mengambil apapun yang berkaitan dengan proses tadi. Ia tetap mempergunakan setting masa lampau di mana kebudayaan dan pencapaiannya sangat tinggi waktu itu.

Ia ingin memperlihatkan bahwa Jepang punya sesuatu yang tidak dimiliki barat; ia punya kebudayaan yang sangat unik dan kompleks. Yang sangat khas. Inilah yang ditonjolkan. Bahwa kebudayaan yang sangat tinggi itu patut dibanggakan. Cerita Ryunosuke, sebagai salah satu jenius dalam kesusastraan Jepang, diambil dan dijadikan ide sebuah film. Cara penceritaan yang sangat modern dan tema yang sangat menarik membuat trauma pasca perang itu tidak terlihat. Yang ada adalah keindahan cerita dan plot yang unik.

Hal-hal seperti inilah yang digunakan untuk membangun kembali kepercayaan diri rakyat Jepang. Bahwa mereka punya banyak hal yang bisa dibanggakan. Pembangunan karakter masyarakat dan perubahan pola pikir menjadi hal yang penting. Di mana film bukan lagi dijadikan alat untuk membius, eskapis, atau malah memberikan mimpi yang terlalu muluk. Rashomon kemudian menjadi sangat aktual dalam konteks masa itu; mempertanyakan kenyataan.

Hal ini menarik bila dibandingkan dengan keadaan di Indonesia pada tahun-tahun ketika film ini dibuat. Indonesia bukanlah negara yang kalah perang. Negara ini bahkan meneriakkan kemeerdekannya sendiri ke seluruh dunia. Negara ini tidak seporak-poranda Jepang. Namun, pada tahun itu, kita belum mempunyai sebuah film yang bisa dikatakan menceritakan diri kita sendiri. Memperlihatkan apa yang ada dari sebuah masyarakat. Film di sini masih hanya berupa hiburan. Bukan sebuah tempat pencarian identitas atau pencatatan sejarah.


Bibliografi

Bock, Audie. 1980. Japanese Film Directors. Tokyo: Kondansha International Ltd.

Bordwell, David. 1994. Film History: an Introduction. New York: McGraw-Hill

Hunter, Janet E. 1989. The Emergence of Modern Japan: an Introductory History since 1853. Singapore: Longman Publisher (Pte) Ltd.

Jonnosuke, Masumi. 1985. Postwar Politics in Japan 1945-1955. California: University of Berkeley

Richie, Donald. 1965. The Film of Akira Kurosawa. Berkeley:University of California Press

Osamu, Kuno dkk. 1995. Seri Pengkajian Kebudayaan Jepang: Individu dan Kekuasaan. Jakarta:

Gramedia

Audie Bock, Japanese Film Directors (Tokyo: Kondansha International Ltd), 1980, hal 163

Sumber utama ide Akutagawa untuk cerita pendek “Rashomon” (1915) dan “In a Grove” (1921) adalah koleksi cerita pendek Jepang yang berjudul “Konjaku Monogatari” (“Tales of Times Now Past”) yang berisi ratusan cerita pendek yang beasal dari akhir abad ke sembilan belas. Lihat James Goodwin, Akira Kurosawa and Intertextual Cinema (London: The Johns Hopkins University Press, 1994), hal. 118.

Donald Richie, The Film of Akira Kurosawa (Berkeley: University of California Press), 1965, hal. 70

Jidai-geki: (period film). Sebuah istilah untuk menyebutkan film-film yang mempunyai seeting sejarah tertentu, menampilkan samurai, yakuza, dan cerita rakyat yang terkenal. dalam era Edo (1600-1868). Jidai-geki berkisar antara komedi rendahan hingga drama berkelas dan berisi kritikan sosial.

Donald Richie, The Film of Akira Kurosawa (Berkeley: University of California Press, 1965), hal. 71

Dalam Jonnosuke , Matsumi. 1985. Postwar Politics in Japan 1945-1955. California : University of Berkeley, hal. 135

Osamu, Kuro dkk. 1995. Seri Pengkajian Kebudayaan Jepang: Individu dan Kekuasaan. Jakarta: Gramedia, hal 77

 

Catatan Kecil Saja

•January 12, 2008 • 1 Comment

Beberapa hari dikejar deadline tugas, aku merasa seperti robot yang jari-jarinya harus terus menekan keyboard.

Di luar sana hujan. Entah hujan yang keberapa kali dalam musim penghujan ini. Tapi mungkin ini yang paling deras dan lama.

Kenapa beberapa orang begitu mempesona dengan bakatnya? Kenapa beberapa yang lain seperti keajaiban yang muncul entah dari mana? Aku sudah berusaha begitu lama untuk mencari cara agar semua yang aku inginkan bisa aku lakukan, termasuk menulis. Aku ingin menulis bukan hanya karena aku ingin bukuku diterbitkan atau karyaku dibaca orang. Lebih dari itu, aku ingin memberikan sesuatu.

Sebuah renungan hari ini tidak akan pernah selesai bila tidak dipahami maknanya. Sebuah buku tidak akan selesai terbaca bila aku tidak berkeras merampungkannya. Apa yang aku perlu sebenarnya?

Ada yang salah di sini, ada yang kurang. Ada yang tidak bisa diisi dengan kekosongan yang sama. Harus ada yang berdiri dan berlari membebaskan semua. Tidak, aku sedang mati sebentar saja.

Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 6)

•January 12, 2008 • Leave a Comment

Apa yang kurang dari Ibu, Yah? Untuk apa lagi anak perempuan yang Ayah inginkan itu? Tidakkah cukup aku saja anakmu? Kenapa harus menyakiti Ibu dan aku hanya untuk ambisi Ayah?

Ayah tidak menjawab. Matanya menerawang dalam mataku. Seakan ingin menjelaskan tanpa kata-kata. Tapi aku tidak menangkap apapun di sana selain sebuah rahasia yang tidak juga ingin dia katakan padaku.

Kenapa harus dengan seorang pelacur, Yah? Tidakkah di luar sana ada banyak sekali perempuan baik-baik bila Ayah ingin berpoligami misalnya? Aku yakin Ibu akan merelakan sebagian dari ayah untuk perempuan lain bila ayah menyampaikan maksud Ayah dengan baik. Menyertakan alasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh hati. Tapi Yah, apa yang ingin Ayah lakukan sekarang malah bisa menghancurkan kami.

Kata Ayah: Kamu laki-laki.

Kenapa kalau aku laki-laki, Yah?

Kata Ayah: Apakah sebuah maksud baik harus dikatakan, Nak?

Maksud baik apa, Yah?

Kata Ayah: Cinta.

Bukan cinta namanya Yah, bila cinta itu harus menghancurkan cinta yang lain.

Kata Ayah: Bukan. Bukan cinta pada perempuan itu, Nak. Tapi cinta pada kalian berdua; ibumu dan kamu. Ayah ingin anak perempuan tanpa harus menyakiti kalian.

Aku tidak mengerti.

* * *

 

Kami mengikuti perempuan itu. Rambutnya hitam sebahu. Wajahnya putih bersih. Dia memakai baju berwarna hitam tanpa lengan dan rok mini berwarna putih. Dia terlihat sangat seksi, tapi masih kesan terlihat anggun. Aku menaksir usianya masih tiga puluh tahunan. Dandanannya tidak begitu menor, tidak seperti teman-temannya yang kami temui semalam. Aku menundukkan wajahku. Tidak sanggup melihat perempuan itu. Hatiku serasa terbakar.

Bintang memarkir mobilnya di tepi jalan di seberang lokalisasi itu—sekali lagi Bintang membawa kabur mobil ayahnya, kemarin ayahnya tidak marah karena tidak tahu kalau mobilnya kami pakai—di sebuah tanah kosong yang tidak terpakai. Kami mengawasi perempuan itu dari dalam mobil. Hak sepatunya yang tinggi membuat perempuan itu sulit berjalan. Ia berjalan menjauhi tempat lokalisasi yang sekarang sudah tampak sepi. Warung-warung yang semalam tampak memenuhi tepi jalan, sekarang sudah tidak ada lagi. Perempuan itu kemudian menyeberang jalan.

“Eh, liat tuh! Dia masuk ke rumah itu!” kata Bintang sambil menunjuk ke arah rumah kecil yang berada tidak jauh dari tampat kami memarkir mobil. Aku memperhatikan perempuan itu yang sekarang sudah lenyap, masuk ke dalam rumah itu. Di situkah rumahnya?

Rasanya tidak, karena beberapa saat kemudian ia keluar dari rumah tersebut. Tapi dia menjadi sangat berbeda. Pakaiannya yang tidak senonoh dan seksi sudah bertukar dengan celana panjang hitam dan kemeja biru kotak-kotak yang bersahaja. Dandanannya juga sudah dihapus. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke belakang. Sekarang ia tampak seperti perempuan paruh baya biasa yang sederhana. Bukan lagi seorang pelacur di lokalisasi. Dan dia tampak lebih cantik.

“Wah, jadi laen banget!” kata Bintang takjub. Perempuan itu berjalan melewati mobil kami. Sesaat ia menoleh ke arah kami, tapi aku dan Bintang pura-pura tidak melihatnya.

Aku tidak mengerti kenapa perempuan itu harus bersusah-payah mengubah penampilannya sebelum pulang ke rumah. Berbagai kemungkinan mulai memenuhi kepalaku. Tapi tak satupun yang dapat aku pastikan kebenarannya. Perempuan itu menyetop sebuah angkot berwarna biru telur asin lalu naik ke atasnya. Bintang dengan sigap langsung mengikutinya. Tidak terlalu jauh sampai perempuan itu turun. Ia langsung memasuki sebuah gang yang cukup besar. Bintang membelokkan mobilnya memasuki gang itu. Untunglah gang ini cukup lebar, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengikuti perempuan itu. Ia berhenti di depan sebuah rumah kontrakan sederhana bercat kuning gading. Ada beberapa pot tanaman yang disusun rapi di terasnya.

Perempuan itu membuka pagar dan masuk ke dalam. Seorang gadis kecil membukakan pintu. Aku yakin itu anaknya karena wajah mereka sangat mirip. Perempuan itu kemudian menutup pintu. Bintang memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah perempuan itu.

“Sekarang gimana?” tanya Bintang. “Kamu tetap ingin menemui perempuan itu?”

“Entahlah. Bagaimana sekarang?” aku balik bertanya. Bintang mengangkat bahunya.

“Terserah kamu saja.”

Aku berpikir sesaat sebelum mengambil keputusan.

“Bagaimana kalau kita menemuinya sekarang?” tanyaku. “Aku ingin bicara dengannya.”

“Bicara apa?” tanya Bintang.

“Aku ingin tahu apa yang membuatnya menginginkan ayahku atau kenapa ayahku menginginkan dia. Aku ingin meminta ayahku kembali.”

Aku rasa ini keputusan terbaik yang bisa aku buat untuk saat ini. Aku sudah terlanjur sampai di sini. Perempuan itu sekarang hanya berada beberapa meter di hadapanku. Aku harus memberanikan diri menemuinya.

Tahu-tahu aku dan Bintang sudah ada di depan rumah perempuan itu dan mengetuk pintunya. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak tahu apakah aku bisa bicara bila dia sudah ada di depanku.

“Ya? Mencari siapa?” tanya seorang gadis yang tadi membukakan pintu untuk perempuan itu. Rambutnya hitam sebahu dan wajahnya cantik.

“Eng… mencari, eng…,” aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Mencari Tante Mariska,” jawab Bintang singkat tapi cukup menolongku.

Gadis itu mengangguk tanda mengerti .

“Tunggu sebentar, ya,” ujarnya sambil beranjak ke dalam. Gadis itu mungkin hanya beberapa tahun di bawahku. Ia manis sekali. Sesaat kemudian perempuan yang kami cari dari semalam keluar menemui kami. Ia tersenyum ramah.

“Ada apa?” tanyanya.

“Saya ingin bicara dengan Anda. Ini sangat pribadi,” jawabku. Aku berusaha agar suaraku tidak menunjukkan kecemasan yang berlebihan walaupun kedengaran agak bergetar juga.

“Masalah apa?” tanyanya lagi.

“Tentang ayahku,”jawabku.

“Ayahmu? Siapa?” perempuan itu tampak bingung.

Aku menyebutkan nama ayahku dan mata perempuan itu membulat. Ia buru-buru menyuruh gadis kecil yang masih berdiri di belakangnya untuk masuk ke dalam. Ia kemudian langsung keluar dari rumahnya dan menutup pintu. Sekarang wajahnya tampak begitu serius.

“Bisa kita bicara di tempat lain saja?” pintanya. “Saya tidak ingin anak saya mendengar apa yang akan kita bicarakan.”

Ternyata benar, gadis kecil itu anaknya.

Aku menyetujuinya.

Kami kemudian berjalan menuju sebuah tempat makan kecil yang berada tidak jauh dari rumahnya. Perempuan itu tampak sedikit gugup.

“Dia tidak tahu kalau saya… seorang pelacur,” katanya pelan sambil duduk di sebuah bangku. Aku memilih untuk duduk di hadapannya. Bintang duduk di sampingku.

“Saya tidak menyangka kalau kalian akan mencari saya. Namamu Kelana, bukan? Ayahmu sering membicarakanmu.” Dia tersenyum.

“Aku ingin tahu tentang hubunganmu dengan ayahku,” kataku dengan suara yang sedikit ditekan.

“Kamu mau pesan apa?” tanya perempuan itu ketika seorang pelayan tempat makan itu mendekati kami. Aku menggeleng.

“Es teh manis tiga,” katanya pada pelayan itu. Pelayan yang sedikit tidak ramah itu bergegas ke dapur.

“Saya tahu kamu pasti akan menanyakan ini. Tapi kamu sudah salah sangka. Selain berteman, saya dan ayahmu tidak punya hubungan apa-apa lagi,” jawabnya dengan yakin seakan sudah mempersiapkan segalanya. Wajahnya pun tampak tenang. Tidak seperti bayanganku sebelumnya. Aku membayangkan wajahnya seperti pencuri yang ketahuan mencuri tapi tidak mau mengembalikan barang curiannya. Aku membayangkan ia akan membicarakan ayahku dengan garis bibir mengejek seakan ayahku adalah laki-laki bodoh yang dengan mudahnya meninggalkan anak dan istrinya hanya demi pelacur yang memang jauh lebih muda, cantik, dan menarik. Tapi tidak, wajahnya tidak seperti itu. Wajahnya tenang. Walaupun aku bisa menangkap getar tertentu dalam suaranya tiap kali ia menyebut nama ayahku. Aku tidak tahu getaran apa itu.  Perempuan ini membingungkanku.

“Tapi ayahku ingin menikahimu,” kataku dengan suara yang mulai meninggi.

Perempuan itu menggeleng. Raut wajahnya menyiratkan bahwa ia benar-benar yakin dengan apa yang dikatakannya. Raut wajah seperti ini bukanlah raut wajah yang dimiliki seorang pembohong. Apakah perempuan ini tidak berbohong?

“Itu hanya karena ia terlalu baik. Saya tidak pernah menemui seseorang yang lebih baik dari ayahmu. Dia tidak ingin menikahi saya. Percayalah. Dia mencintai ibumu. Sampai kapanpun akan tetap begitu. Kamu mungkin tidak akan percaya pada apa yang saya katakan. Tapi saya tidak pernah menggoda ayahmu dan kami tidak pernah berbuat apapun yang kamu takutkan itu.”

“Ayahku ingin anak perempuan darimu,” kataku lagi. Sekarang suaraku tercekat. Aku tidak tahu apalagi yang dapat aku katakan pada perempuan ini agar ia mengerti aku begitu membencinya. Perempuan itu terdiam sesaat. Mungkin ia sedang menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan padaku. Matanya yang coklat memandangku lembut. Seperti ketika Ibu memandangku. Aku membuang muka.

“Apakah kamu mau mendengarkan saya kalau saya katakan padamu yang sebenarnya? Saya tidak memintamu untuk mempercayai saya. Kamu cukup mendengarkan saja. Tapi saya pastikan kalau apa yang saya katakan padamu ini benar adanya,” kata perempuan itu kemudian.

“Baiklah,” kataku setuju. Toh aku hanya perlu mendengarkannya saja. Aku tidak perlu mempercayai ceritanya bila cerita itu memang tidak bisa dipercaya. Pelayan datang membawakan tiga gelas es teh manis untuk kami. Bintang yang kelihatan haus langsung menyambar salah satu gelas dan langsung menghabiskannya dalam beberapa tegukan saja. Aku bahkan tidak punya selera untuk minum.

“Saya pelacur. Kamu sudah tahu itu. Saya melacur untuk menghidupi anak saya. Dia bukan anak haram yang saya dapatkan dari melacur. Dia anak saya dan suami saya. Suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia sakit parah hingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan sebelum akhirnya dia meninggal.”

Perempuan itu terdiam sesaat. Wajahnya berubah menjadi sedikit sedih.

“Kami bukan orang berada,” lanjutnya. “Saya berhutang kesana-kemari untuk membayar biaya rumah sakit yang jumlahnya tidak sedikit. Saya tidak tahu kalau ternyata saya juga berhutang dengan jumlah yang sangat banyak pada seorang germo. Awalnya saya tidak tahu kalau dia itu germo karena dia sangat baik. Setelah suami saya meninggal, saya mencoba untuk melunasi hutang-hutang itu. Saya menjual rumah saya dan barang-barang yang ada di dalamnya, tapi itu belum cukup juga. Sisa hutang saya masih banyak. Dia memberikan bunga yang sangat tinggi pada saya.

Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia memaksa saya untuk melacur. Saya tidak bisa menolak. Dia mengancam saya. Semua uang yang saya dapatkan dari hasil melacur harus saya serahkan padanya. Untuk kebutuhan saya sehari-hari, saya mengandalkan tips yang diberikan tamu dan juga upah saya sebagai tukang cuci.

Mungkin ini terdengar tidak masuk akal buat kamu. Tapi itulah kenyataannya. Saya tidak ingin jadi perempuan yang sok suci karena nyatanya saya hanyalah seorang pelacur. Beberapa bulan yang lalu, saya kehilangan dompet saya. Saya tidak ingat di mana saya menjatuhkannya. Ayahmu mengantarkan dompet itu ke rumah saya. Ternyata dia menemukannya. Saat itu kami sempat berbincang-bincang. Ayahmu sangat baik hingga saya tidak ragu-ragu untuk menceritakan masalah saya padanya. Dia tampak begitu prihatin dengan keadaan saya. Setelah itu kami sempat bertemu beberapa kali tapi kami tidak pernah melakukan apapun yang kamu takutkan itu.

Dia hanya ingin membantu saya, juga anak saya. Tapi saya tolak tawarannya itu. Saya tidak bisa menerima bantuan seperti itu. Lalu dia mengajakku menikah dengannya hingga anak saya tidak akan kekurangan apapun dan dia bisa membayar semua hutang-hutang saya tanpa harus membuat saya merasa berhutang budi padanya. Tapi yang paling penting, ia berharap agar saya berhenti melacur.

Saya sangat senang mendengar tawaran itu. tapi saya juga tahu, dia punya seorang istri yang sangat dia cintai dan seorang anak laki-laki yang hebat. Saya tidak mungkin bisa masuk dalam kehidupan kalian. Apalagi dengan keadaan saya sekarang. Beberapa hari yang lalu ayahmu meminta alamat tempat saya melacur. Dia ingin bicara dengan germo saya. Saya berharap dia tidak akan pernah datang. Ini adalah masalah saya. Saya tidak ingin melibatkan ayahmu terlalu jauh,” perempuan itu bercerita dengan suaranya yang menyiratkan kepedihan.

“Kemarin malam aku datang ke lokalisasi dan melihatmu dengan beberapa orang laki-laki. Kamu tampak sangat menikmatinya,” kataku.

“Saya harus menyenangkan pelanggan saya agar saya bisa mendapatkan tips yang banyak. Saya juga harus tidur dengan beberapa laki-laki tiap malam agar saya bisa dengan cepat melunasi hutang-hutang itu,” jawabnya. Perempuan itu kemudian tertunduk.

“Aku tidak tahu harus percaya atau tidak,” kataku.

“Itu hak kamu. Tapi kamu harus percaya kalau ayahmu itu sangat baik,” katanya. Kemudian kami terdiam. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

“Kenapa kamu menceritakan semua ini?” tanyaku.

“Aku ingin kamu tahu dan tidak salah paham pada ayahmu.”

“Kamu harus percaya,” kata Bintang yang dari tadi hanya diam mendengarkan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena Tante Mariska tidak berbohong. Aku bisa merasakan dia tidak berbohong,” jawab Bintang.

* * *

 

Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 5)

•January 12, 2008 • Leave a Comment

Bintang setuju untuk menemaniku. Sabtu malam, aku dan Bintang pergi ke tempat yang alamatnya tertulis di kertas kecil yang aku temukan di kantong kemeja ayahku. Sebuah lokalisasi di tepi jalan raya. Bintang memarkir mobilnya di sebuah swalayan di dekat tempat itu. Sebenarnya orang tua Bintang tidak membolehkannya menyetir mobil, selain karena Bintang belum cukup umur untuk memiliki SIM, Bintang baru saja bisa menyetir sebulan yang lalu. Dengan mengendap-endap Bintang berhasil membawa kabur mobil ayahnya. Aku sudah berusaha melarang, tapi Bintang berkata bahwa akan lebih memudahkan bila kami membawa mobil. Akhirnya aku mengalah dengan mengajukan syarat bahwa Bintang harus mengemudikan mobil dengan hati-hati. Bintang setuju.

Kami kemudian berjalan kaki dari tempat Bintang memarkir mobilnya. Tempat itu cukup jauh dari rumahku. Ada warung minuman yang cahayanya sengaja dibuat remang-remang di depan tempat itu. Beberapa bangunan semi permanen ada di belakang warung-warung itu. Gelap. Terdengar tawa manja yang berasal dari sana. Aku juga bisa melihat perempuan-perempuan dengan pakaian seronok sedang duduk-duduk di warung itu.

“Bukankah ini aneh, Lana?” tanya Bintang. Kami masih berdiri di halte di seberang jalan.

“Aneh kenapa?” tanyaku.

“Kenapa ayahmu menyimpan alamat seperti ini di kantongnya. Kalo dia ketemuan sama perempuan itu di sini dan sering datang, dia pasti sudah hafal di mana tempatnya bukan? Tempat seperti ini kan, terkenal. Sudah menjadi rahasia umum. Kenapa juga pake acara nyatet alamat segala? Terlalu berisiko. Biasanya kalo nggak tau tempatnya dan belum pernah datang, baru kita nyatet alamatnya, iya kan?”

Penjelasan Bintang masuk akal juga. Tapi aku tidak perduli. Aku sedang tidak ingin memikirkan kemungkinan yang diberikan Bintang. Aku hanya ingin menemukan perempuan itu. Aku tahu, aku akan menemukannya di sini. Bintang menurunkan topi petnya hingga setengah wajahnya tidak kelihatan. Rambutnya yang panjang digulung dan disembunyikan di dalam topi. Bintang memakai kemejaku yang ukurannya sedikit kebesaran untuk tubuhnya. Aku juga menyarankan agar dia memakai kacamata agar tidak ada yang mengenali dia sebagai perempuan, tapi dia tidak mau. Memang dia tidak seperti perempuan sekarang. Tomboi. Seperti laki-laki.

“Siapa namanya?” tanya Bintang. Aku membuka kembali kertas kecil itu. Ada sebuah nama di sana.

“Mariska,” jawabku singkat.

Aku dan Bintang masih berdiri di halte. Sesaat aku ragu untuk menyeberang dan masuk ke tempat itu. Aku tidak pernah ke sana dan suasana tempat itu membuatku tidak nyaman.

“Sekarang bagaimana?” tanyaku.

“Kita ke sana dan cari yang namanya Mariska,” jawab Bintang. “Mudah-mudahn dia cukup terkenal. Jadi tidak akan sulit menemukannya.”

“Kita bisa tanya sama perempuan di pinggir jalan itu,” kataku sambil menunjuk pada seorang perempuan dengan tubuh kurus dan pakaian seksi yang sedang berdiri di tepi jalan. Aku yakin kalau perempuan itu termasuk salah satu pelacur di sini.

“Bodoh!” kata Bintang sambil menatapku. “Nggak bisa kayak gitu. Menurutmu apa mereka mau menjawab kalo kita tanya, ‘Permisi Mbak, yang namanya Mariska yang mana ya?’ Kamu tuh lugu apa bodoh sih? Ini bisnis. Mereka butuh uang.”

“Terus?”

“Kita sewa satu,” jawab Bintang cepat.

“Hah?!”

Bintang tidak melihat keterkejutanku. Ia sudah menarik tanganku dan membawaku menyeberang jalan. Aku hanya bisa mengikutinya. Kami melewati warung remang-remang di tepi jalan dan masuk ke dalam. Tercium bau yang menyengat. Apakah ini bau alkohol? Aku tidak pernah mencium bau seperti ini sebelumnya. Aku tidak suka. Beberapa perempuan menggoda kami. Bintang berhenti di depan seorang perempuan yang sangat seksi dengan dandanan menor. Rambutnya keriting panjang dan dibiarkan tergerai. Wangi parfumnya membuatku pusing.

“Mau yang enak Om?” tanyanya. Sesaat aku melihat ia memperhatikan kami.

“Masih kecil toh?” katanya sambil meneliti wajah Bintang. “Cari pengalaman ya?”

Bintang mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari sakunya dan memperlihatkannya kepada perempuan itu.

“Mau?” tanya Bintang. Perempuan itu berusaha mengambil uang itu. Dengan cepat Bintang mengalihkan tangannya.

“Kamu bakalan dapet ini kalo mau bantuin kita,” kata Bintang kemudian.

“Bantu apa?” tanya perempuan itu. Bintang benar, mereka hanya ingin uang, tidak lebih.

“Kamu cuma perlu ngasih tau kami mana yang namanya Mariska dan setelah itu tutup mulut,” kata Bintang lagi.

“Oo… nyari Mariska. Ngapain Mas? Udah tua. Nggak enak,” jawabnya sambil mencolek Bintang dengan genit. “Mendingan sama saya.”

“Jawab aja. Nggak usah cerewet. Mau ini kan?” tegas Bintang sambil memperlihatkan lagi uang yang dia pegang. Perempuan itu tampak berpikir.

“Mau saya anterin ke orangnya, Mas?” tanyanya.

“Nggak usah repot-repot. Tunjukin aja,” jawab Bintang.

Perempuan itu kemudian membawa kami lebih ke dalam. Ke sebuah warung minuman semi permanen di tengah lokalisasi itu. Ia menunjuk seorang perempuan cantik yang sedang duduk dengan beberapa orang laki-laki. Aku jadi mual. Perempuan itu tertawa dengan manja. Mencubit laki-laki di sampingnya dengan genit. Aku memperhatikan wajah perempuan itu dengan seksama. Berusaha mengingat wajah itu. Ada pedih di sudut hatiku ketika melihatnya. Pedih yang tak terkatakan.

Bintang memberikan uang yang ia pegang pada perempuan yang sudah menunjukkan Mariska kepada kami. Perempuan itu tersenyum genit dan mencoba menggodaku. Dengan cepat Bintang menepiskan tangan perempuan itu yang berusaha mencolekku. Aku mundur beberapa langkah.

“Sebaiknya kamu pergi. Makasih,” kata Bintang. “Jangan lupa, tutup mulut.”

Perempuan itu pun pergi meninggalkan kami. Aku merasa sedikit lebih aman sekarang.

“Kita nggak bisa ngobrol dengan dia di sini sekarang. Besok pagi aja kita dateng lagi dan mengikuti dia pulang ke rumahnya,” usul Bintang. “Lagian ini udah malem banget.”

“Aku kan perempuan baik-baik. Nggak etis berkeliaran malem-malem, apalagi di tempat kayak gini,” katanya lagi sambil tersenyum.

Aku mengangguk setuju. Mungkin dilanjutkan besok lebih baik.

“Apa mereka bisa dipercaya? Apa benar yang ditunjukkan itu Mariska?” tanyaku sedikit kuatir.

“Entahlah, Kelana. Setidaknya kita sudah berusaha. Tapi lebih baik perempuan tadi mengatakan yang sebenarnya atau dia akan menyesal. Aku akan datang lagi dan menuntutnya bila dia berbohong. Tapi besok kita akan tau apakah ada kebohongan atau tidak.”

Aku dan Bintang masuk ke mobil.

Ya, besok kita akan tahu apakah ada kebohongan atau tidak. Aku menyandarkan punggungku. Mencari posisi yang nyaman. Entah kenapa aku merasa sedikit kelelahan. Tempat yang aku datangi tadi rasanya menyerap semua tenagaku. Aku tidak ingin datang lagi ke sana. Mudah-mudahan ini yang pertama dan terakhir.

“Uangmu nanti aku ganti ya,” kataku.

“Udah, lupain aja. Anggep aja buang sial,” kata Bintang sambil tersenyum.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Sepanjang perjalanan pulang kami hanya terdiam. Aku tidak suka melihat perempuan itu. Apalagi dia sangat cantik. Bintang melepas topinya membiarkan rambut panjangnya tergerai.

“Aku pikir, aku cukup ganteng…,” ujarnya pelan.

* * *

 

Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 4)

•January 12, 2008 • Leave a Comment

“Nemenin ke lokalisasi? Ke tempat pelacur-pelacur gitu?Yang bener aja!”

Belum apa-apa Bintang sudah berteriak. “Biar kamu aneh begini, aku yakin kamu anak baik-baik. Apa yang mau kamu cari di sana? Hah?! Perempuan-perempuan nggak bener atau….”

“Stop… stop!” potongku cepat.

“Apa?”

“Stop,” ulangku.

Mata sahabatku itu membulat. Rambut hitam panjangnya yang tergerai bergerak lemah seirama gerakan kepalanya ketika bicara.

“Kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan tujuannya,” ujarku.

Sesaat aku dan Bintang terdiam. Bintang memandangku dengan mata bulatnya dan tersenyum kecil.

“Oke! Sekarang kamu dapat kesempatan itu.”

“Harusnya dari tadi!” kataku sebal.

“Sori. Aku emosi. Ayo jelaskan, kalo memang ada penjelasan yang masuk akal dan tidak melanggar kesusilaan.”

Aku menarik napas. Berat sekali rasanya. Tapi aku benar-benar butuh bantuan sekarang. Hanya Bintang yang bisa aku percaya.

“Aku punya masalah sekarang. Aku….”

Bintang memotong, “Aku akan mendengarkan kamu cerita. Aku akan menjaga rahasia. Aku akan membantu kalo bisa. Sekarang cerita. Silahkan….”

Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus cerita dari mana.

“Singkat saja kalo nggak bisa bertele-tele,” kata Bintang lagi.

Sesaat aku tersenyum. Tapi hanya sebentar. Aku memikirkan kata apa yang dapat aku pilih untuk menjelaskan semua gundahku yang sudah sampai ke kepala.

“Ayahku selingkuh,” kata itu terucapkan juga. Singkat namun cukup menyakitkan. Bintang tidak bereaksi. Wajahnya datar saja. Ia seperti sedang menunggu apa yang akan aku katakan selanjutnya.

“Aku dapat alamat perempuan itu dari kantong kemeja ayahku semalam ketika sedang membantu Ibu memisahkan pakaian yang hendak dicuci. Tempatnya di lokalisasi itu. Aku ingin ke sana. Menemui perempuan itu.” Aku berusaha bicara sesingkat mungkin. Bercerita panjang lebar hanya akan membuat perasaanku makin kacau saja. “Ayahku juga berkata kalau dia ingin anak perempuan. Bintang, ibuku sudah tidak bisa punya anak lagi…”

Bintang terdiam tapi matanya berkata kalau ia tidak percaya. Kami terdiam. Buku fisika yang awalnya ingin kami pelajari bersama untuk ulangan besok jadi tergeletak begitu saja. Ruang tamu rumah Bintang menjadi sunyi.

“Untuk apa kamu ingin menemuinya?” tanya Bintang.

“Aku ingin mengambil kembali ayahku,” jawabku.

“Ini nggak mungkin, Lana. Aku nggak percaya kalo ayahmu sampai hati berbuat seperti itu.”

“Aku sangat ingin untuk tidak percaya sepertimu.”

* * *

 

Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 3)

•January 12, 2008 • Leave a Comment

Tujuh Tahun Sebelum Hari Itu

 

 

Ada aku, Ibu dan Ayah di sini. Ini rumah kami. Hanya kami.

Ayahku adalah pegawai negeri biasa dan ibuku adalah perempuan yang luar biasa. Ia perempuan yang bisa bicara dengan hati kami. Perempuan yang mengurus kami. Yang menenangkan Ayah dalam pelukannya saat gundah. Yang menentramkan aku dalam dekapannya saat aku ketakutan.

Kami bertiga.

Kami tidak membutuhkan siapapun lagi.

Tapi seseorang masuk dan menghancurkan semua.

* * *

 

Pandangan mata selalu menarik untuk dibaca. Seperti buku yang terbuka. Menyembunyikan makna dibalik tiap huruf dan kata dengan sempurna. Mata Ibu tidak terbaca. Namun ada sesuatu yang menunggu untuk aku mengerti di sana. Entah apa itu. Mungkin itu gundah. Mungkin itu kesedihan. Aku tidak bisa mengejanya dengan benar.

Aku bertanya.

Tidak ada yang menjawab.

Aku kembali bertanya.

Ayah yang menjawab: Apa yang kau lakukan bila kau menginginkan sesuatu, anakku? Kamu pasti mengejarnya sampai dapat, bukan? Kalau kau kejar ia berlari, kau pasti memburunya. Semakin kau ingin, semakin keras kau berusaha. Dengan cara apapun kau mencoba menangkapnya. Bagaimana denganku, anakku? Aku akan melakukan hal yang sama. Kau anak laki-lakiku. Hanya kau. Bahkan untuk mendapatkanmu aku dan ibumu harus menunggu dan berusaha selama sepuluh tahun. Waktu yang panjang, anakku. Dan ibumu, ia harus kehilangan rahimnya akibat pendarahan dan operasi kelahiranmu.

Kau adalah harta kami yang paling berharga. Bintang emas yang benderang di langit hati kami. Tapi anakku, aku ingin memiliki satu bintang lagi. Bukankah manusia tidak pernah puas? Aku ingin satu bintang lagi. Bintang yang berwarna merah jambu. Rambutnya dikepang dua dan dia akan berlari menyongsongku di depan pintu sambil membawa boneka. Satu bintang lagi, anakku. Merah jambu. Dan bukan dari ibumu.

”Siapa perempuan itu, Yah?”

Dadaku tiba-tiba menjadi sesak.

Ayah tidak menjawab. Hanya angin berdesir pelan membelai daun pohon rambutan di halaman. Kemudian suara dzikir Ibu yang lembut-lirih.

“Ayah, tidak cukupkah aku saja anakmu?”

“Kau anak laki-lakiku.”

“Apa salahnya aku laki-laki, Yah?” Ayah tidak menjawab.

Angin kembali berhembus menyebarkan dingin. Aku bangkit dan berjalan ke dalam. Meninggalkan Ayah sendirian di teras. Aku berjalan ke kamar ibu. Mendekati Ibu yang masih duduk di sajadahnya sejak Isya tadi. Aku memeluknya dari belakang.

Kami terdiam sesaat.

“Buat Ibu, hanya kamu saja,” katanya pelan.

Aku mengeratkan pelukanku.

* * *

 

Bintang dengan Huruf “b” Kecil (bagian 2)

•January 12, 2008 • Leave a Comment

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang biasa yang terlalu biasa. Seperti sehelai daun mahoni tua yang harus meranggas bersama ribuan sesamaku di musim kering. Mengorbankan diri agar pohon tempatku bergantung tidak mati kekurangan air. Agar ia bisa bertahan di tengah kemarau dan bisa melanjutkan hidup hingga hujan datang. Di musim itu daun-daun baru yang hijau dan segar akan muncul.

Ketika aku jatuh ke tanah, tak ada yang peduli. Hingga tubuhku layu dan membusuk. Terus terbenam ke tanah dan menjadi makanan bagi pohon asalku.

Kadang aku berharap seorang anak kecil yang sedang bermain di taman ini menemukanku. Tertarik pada warnaku yang kekuningan. Lalu memungutku dan membawaku pulang. Mengeringkan tubuhku. Lalu menempelkanku di buku gambarnya. Ia akan menunjukkanku pada gurunya keesokan harinya dan membuat guru itu kagum. Setelah itu aku hanya akan terhimpit puluhan buku di meja belajarnya. Lalu pindah ke sebuah kardus besar. Selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari si anak kecil yang sudah dewasa itu membongkar gudangnya. Mengeluarkan tiap buku yang ada di situ. Membuka tiap lembarnya. Mengulang tiap kenangan. Hingga ketika ia sampai padaku, mungkin ia akan tersenyum sebentar, kemudian membuka lembar yang lain. Kemudian melanjutkan hidupnya kembali. Seperti aku yang akan melanjutkan hidupku sebagai kenangan.

Aku bukan siapa-siapa.

     Tapi setidaknya aku adalah tokoh utama dalam cerita perjalanan hidupku.

* * *

 

Hanya aku dan Ibu di rumah ini.

Rumahku dan rumah Ibu. Walaupun dulu rumah ini pernah menjadi rumah Ayah. Sekarang hanya aku dan Ibu.

 

Kata Ibu: Kamu selalu mengingatkan Ibu pada ayahmu. Matamu seperti mata ayahmu. Suaramu seperti suara ayahmu, tawamu seperti tawa ayahmu. 

Tidak, Bu. Aku bukan Ayah. Mataku, suaraku, dan tawaku bukan seperti milik Ayah. Mata Ayah begitu teduh, Bu. Mataku tidak. Suara Ayah begitu menenangkan. Suaraku tidak. Tawa Ayah begitu menyenangkan. Tawaku tidak. Aku tidak ingin seperti Ayah. Cukuplah Ayah saja yang seperti itu. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin menjadi bayang-bayang Ayah yang akan selalu mengingatkan Ibu pada suamimu yang sudah meninggal itu. Tidakkah yang sudah pergi tidak akan pernah kembali, Bu? Sekarang ini ada aku, anakmu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Kata Ibu: Hanya kamu yang tersisa dari ayahmu.

Tidak, Bu. Aku bukan sisa siapa-siapa. Aku hanya anakmu dan Ayah. Cukuplah itu.

 

Percakapan seperti ini akan selalu terputus oleh suara Ibu yang mulai bergetar dan matanya yang berkaca-kaca. Aku pernah punya ayah yang hebat dan Ibu pernah punya suami yang menakjubkan, tapi masa itu sudah berlalu. Sekarang tinggal kami berdua. Tapi rasa-rasanya, ibuku masih tetap hidup di dalam kenangan bersama Ayah. Mungkin Ibu masih juga membayangkan mereka suka menghabiskan waktu senja dengan berbincang di beranda. Sementara aku, ingin keluar dari kenangan itu. Kenangan dilupakan bukan karena pahit, tapi karena sudah mati. Kenangan tentang Ayah sudah pergi. Aku pernah punya Ayah. Seorang ayah yang hebat. Cukuplah itu yang aku kenang.

 

Hanya aku dan Ibu di rumah ini. Rumahku dan rumah Ibu. Rumah kami. Rumah tua yang masih kokoh. Tapi Ibu tidak kokoh lagi.

Rumah ini terletak di tepi jalan raya. Halamannya tidak begitu luas. Ibu menanam berbagai bunga di sana. Aku tidak tahu banyak tentang nama-nama bunga yang ditanam Ibu, tapi aku tahu, yang berwarna merah tua itu, yang sangat disukai Ibu, bernama mawar.

Kadang aku melihat Ibu berkata-kata dengan mereka. Entah apa yang Ibu katakan pada mereka. Mungkin tentang hal-hal kecil yang Ibu temui hari ini. Tentang pengemis tua di pasar. Tentang cuaca yang kurang baik. Tentang harga sayuran.  Pernahkah Ibu membicarakan tentang aku pada mereka?

Seperti sore ini, aku memperhatikan ibu yang sedang menyiram bunga. Aku baru saja pulang kuliah. Aku memperhatikan Ibu dari jendela kamarku yang langsung berhadapan dengan taman depan sambil membuka kancing kemejaku yang basah oleh keringat. Ibu membuang ulat-ulat yang ada di batang mawar kesayangannya. Melempar mereka ke luar pagar. Mungkin mereka akan masuk ke got di depan rumah lalu meregang nyawa beberapa saat di dalam air sebelum akhirnya mati. Atau bila ulat itu mempunyai peruntungan yang bagus, ia akan mendarat dengan sedikit cedera di tepi jalan raya.

Waktu aku kecil, aku sangat suka memperhatikan ulat-ulat yang menyusup diam-diam seperti gerilyawan yang tidak ingin keberadaannya diketahui musuh. Kadang aku menemukan dua atau tiga ulat pada satu batang tanaman Ibu. Ulat-ulat yang gempal, kenyal, dan berbulu. Mereka berjalan lambat sekali, padahal mereka punya banyak sekali kaki. Tubuh mereka mulur-mengkeret seperti per yang ditarik dan dilepaskan dalam hitungan yang konstan. Bulu mereka yang tegak bergoyang-goyang lambat mengikuti gerakan tubuh mereka.

Mereka bermalas-malasan di atas daun sambil makan. Tubuh mereka semakin gemuk dari hari ke hari. Sementara daun yang mereka makan jadi bolong-bolong tidak karuan. Inilah yang paling tidak disukai Ibu dari mereka; membuat daun tanaman Ibu rusak. Namun hal ini adalah awal dari sebuah proses yang menakjubkan, metamorfosis. Mereka akan membungkus diri mereka dalam kepompong beberapa waktu, lalu sebuah proses ajaib pun dimulai. Sebuah proses yang membuat seekor ulat yang gempal menjadi kupu-kupu yang anggun.

Ibu sangat sangat membenci ulat. Ibu selalu membuang ulat-ulat itu sampai habis. Tidak ada kupu-kupu di halaman. Yang ada hanya bunga-bunga kesepian. Aku sangat menyukai kupu-kupu. Diam-diam aku sering membawa ulat yang aku ambil dari pohon jambu air di depan masjid sepulang mengaji. Aku meletakkan ulat-ulat itu di atas tanaman Ibu. Berharap mereka tidak dibunuh oleh Ibu. Tapi banyak dari mereka yang mati keesokan harinya.

Aku ingin melihat kupu-kupu.

Pernah suatu hari aku ingin menjadi kupu-kupu. Aku makan sayur yang banyak lalu tidur dengan selimut tebal. Aku berharap sayuran yang aku makan berubah menjadi sepasang sayap dan antena yang lucu. Tapi aku kecewa. Tidak pernah ada sepasang sayap yang lucu di kepalaku. Aku menangis seharian. Aku baru diam ketika Ibu membuatkan sepasang sayap dari kertas karton. Ibu menambahkan tali di sayap itu agar aku bisa memakainya. Tapi sayap palsu itu tidak pernah bisa membawaku terbang.

 

Kata Ibu: Manusia tidak akan pernah menjadi kupu-kupu. Seperti kupu-kupu yang tidak akan pernah menjadi manusia. Kita—manusia dan kupu-kupu—sudah punya nasibnya masing-masing. Beruntunglah menjadi manusia. Sangat beruntung.

     Bukankah lebih beruntung menjadi kupu-kupu, Bu? Hanya berterbangan sepanjang hari dengan sayapnya yang indah. Tidak pernah merasa sedih dan susah.

Kata Ibu: Tidak. Ulat berubah jadi kupu-kupu hanya untuk kawin dan meneruskan keturunannya. Setelah bertelur, kupu-kupu betina akan mati. Kupu-kupu jantan lebih mengenaskan lagi. Mereka mati setelah kawin dengan betinanya. Kupu-kupu betina itu akan menjadi ibu kupu-kupu yang tidak pernah melihat anaknya. Beruntunglah jadi manusia. Bisa melihat anak-anaknya tumbuh besar dari hari ke hari. Dan beruntunglah menjadi diriku, karena bisa melihatmu tumbuh. Setiap hari. Bertambah besar. Bertambah dewasa.

 

Di rumah ini tidak pernah ada kupu-kupu.

“Sudah pulang, Nak?”

     Aku terkejut ketika Ibu tiba-tiba sudah ada di belakangku. Tepat di depan pintu kamarku. Kedua tangannya kotor oleh tanah. Tangan kirinya masih memegang gunting tanaman.

     Aku mengangguk dan tersenyum, “Sudah, Bu.”

     Hanya aku dan Ibu di sini.

* * *

 

Catatan Satu: Kelana

•January 12, 2008 • Leave a Comment

Satu Hari Sebelum Hari Itu

 


     Aku mau mempercepat waktu.

     Agar satu menitnya terasa seperti satu detik. Satu jamnya terasa seperti satu menit. Satu harinya terasa seperti satu jam. Hingga aku tidak perlu menunggu terlalu lama.

Bayangkan, aku harus menunggu sampai besok!

     Tapi ini hanya sebagian kecil dari penantianku yang nyaris sudah sampai pada ujungnya. Aku sudah menanti selama hampir satu bulan. Aku sudah mencoba bersabar selama dua puluh sembilan hari. Sekarang aku hanya perlu bersabar untuk satu hari lagi.

     Satu hari memang bukan waktu yang panjang. Namun dalam penantian, satu hari akan terasa begitu lama. Seakan malam ini tidak pernah akan berakhir. Penantian selalu menyisakan kelelahan. Bukan. Bukan lelah menanti. Aku tidak lelah menanti. Aku lelah menenangkan hatiku yang seakan ingin melompat dari rongga dadaku setiap kali aku melihat arloji. Hatiku yang dipenuhi berbagai rasa hingga sesak. Membuat campuran rasa yang tidak dapat aku putuskan namanya. Mungkin itu gundah. Mungkin itu cemas. Mungkin itu bahagia. Mungkin itu ketakutan. Mungkin semua. Mungkin tidak satu pun. Entahlah. Semua berbaur. Menyatu. Membingungkan.

     Aku mau mempercepat waktu.

     Aku sedang menunggu, ya Allah.

     Sedang menunggu dengan cemas yang bertambah cemas.

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku yang dingin. Di luar hujan. Suaranya merambat melalui jendela. Menyusupkan butir-butir halus yang ringan dan lembab sehingga kamar ini menjadi semakin dingin.

     Aku beralih memandang langit-langit kamar. Ada beberapa noda kecoklatan membentuk lingkaran-lingkaran dengan berbagai ukuran. Bekas bocor. Noda-noda itu saling tumpang tindih. Saling bertemu. Membentuk gradasi warna yang lebih tua di tiap tempat bertemunya.

Aku menutup mataku.

     Malam ini terasa berat buatku. Entah kenapa. Atau hanya karena aku sedang menunggu?

     Hening.

     Terdengar samar-samar suara ibuku berdzikir lirih dari kamarnya yang berada di sebelah kamarku. Lalu suara binatang malam.

***

 

Kelana

•January 12, 2008 • 2 Comments

kita kelana mencari arah

di tengah hutan, terengah mencari jalan

 

“Kita bisa mengikuti arah sungai,

hingga muara,” katamu

 

tapi tak ada suara riak sungai

 

di sini hanya muram

pepohonan tinggi seakan menusuk angkasa

 

kita kelana hilang arah

tak bisa pulang

 

aku sudah hampir mati

ketika kamu bertanya,

“tidakkah terbenamnya matahari itu di barat?”

BULAN, PELANGI, DAN CINTA

•January 12, 2008 • 17 Comments

“Ada bulan di kaki malam; jingga.”

Tidakkah genggaman tangan ini terlalu erat?
Karena nafasku sesak menahan hangatnya

Kita tidak bisa bergerak

Di sini sudut ruang sempit-pengap kedap cahaya

“Ada kupu di rambutmu
Biru warna sayapnya bias dengan langit.”

Tidakkah peluk ini terlalu dekat?
Peluh di keningmu mengalir di leherku

Kita tidak tahu apa-apa
Tersesat di ribuan mimpi tentang pelangi warna-warni

“Ada cinta di hatiku
Tidakkah kau lihat itu?”