[Belgium] PhD Scholarship Human-Computer Interaction

•July 17, 2008 • Leave a Comment

The Expertise centre for Digital Media (EDM, http://www.edm.uhasselt.be) is a research institute of Hasselt University in Belgium. The research team of about 80 people performs scientific research in 3 areas: computer graphics, human-computer interaction and multimedia & communication technology. In the context of a FWO research project, Hasselt University calls for candidates for the following vacant position (m/f) in EDM:

PhD Scholarship human-computer interaction (2×2 years) (mandate WNI/2008/025)

Job description
The PhD research will be performed in the research group human-computer interaction (HCI) of EDM. Relevant research domains covered in HCI research at EDM are:
technologies and tools for the realisation of user interfaces for ubiquitous computing;
model-based development of interactive applications;
context-aware, distributed and migratable user interfaces.

The fundamental research project is carried out in the domain of model-based development of user interfaces. The use of models and their transformations are the central concepts in this project. The PhD research consists of the investigation of different aspects of the HCI modeling languages for context-sensitive interactive applications and their place within model-driven engineering. Properties of model transformations, such as correctness, are investigated through formalization of the used models.

Diploma
Master in computer science, licence in (applied) computer science, civil engineer computer science or equivalent. Students who will complete their studies during the summer, are strongly invited to apply.

Further information
Content job responsibilities:
Prof. dr. Karin Coninx +32-11-26 84 11, karin.coninx@uhasselt.be
Prof. dr. Kris Luyten +32-11-26 84 11, kris.luyten@uhasselt.be

Content terms of employment and selection procedure:
Jef Vanvoorden, 011-26 80 80, jef.vanvoorden@uhasselt.be

Application
Applicants must use the official application forms
which are available at the Rectoraat of Hasselt University, Campus Diepenbeek, Agoralaan – building D, B-3590 Diepenbeek (Belgium), phone +32 – 11 – 26 80 03
or which can be downloaded here http://www.uhasselt.be/download/APengelsUH.doc

The completed application forms must reach the above mentioned address no later than Friday, August 1st 2008.

Application by e-mail will only be taken into consideration when sent to the following address: jobs@uhasselt.be.

Lomba Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia “Manfaat Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Perpustakaan Nasional RI”

•July 17, 2008 • Leave a Comment

Deadline: 13 September 2008

DITUJUKAN KEPADA
Pustakawan, mahasiswa dan masyarakat umum
ISI PENGUMUMAN
A. PENDAHULUAN
Perpustakaan Nasional RI berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas layanannya kepada pemustaka, termasuk kualitas pustakawannya. Untuk itu, Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia. Lomba ini sekaligus untuk menyambut Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan tanggal 14 September 2008. Dari kegiatan ini diharapkan Perpustakaan Nasional RI memperoleh masukan positif dan ilmiah dari masyarakat pengguna Perpustakaan Nasional RI.

B. TEMA LOMBA
Manfaat Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Perpustakaan Nasional RI.

C. TOPIK PENULISAN
Pendapat, pandangan dan masukan dari pustakawan, mahasiswa dan masyarakat umum tentang kesiapan pustakawan Perpustakaan Nasional RI dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas layanannya.

D. PELAKSANAAN LOMBA
1. Pengumpulan artikel: 1 Juli – 13 September 2008;
2. Penilaian artikel oleh Tim Juri: 14 September – 13 Oktober 2008;
3. Pemenang akan diumumkan pada bulan Oktober 2008 dalam acara Penutupan Rangkaian Kegiatan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan Tahun 2008 serta pada situs resmi Perpustakaan Nasional RI: http//www.pnri.go.id;
4. Artikel terbaik akan dimuat dalam majalah Visi Pustaka terbitan Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi, Perpustakaan Nasional RI.

E. PERSYARATAN PESERTA
1. Mahasiswa, pustakawan dan masyarakat umum;
2. Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Karyawan/identitas lain;
3. Melampirkan daftar riwayat hidup;
4. Melampirkan pas foto berwarna ukuran 3×4 = 1 lembar.

F. TATA CARA PENGIRIMAN ARTIKEL
1. Peserta lomba boleh mengirim lebih dari satu artikel dengan judul berbeda. Satu orang maksimal mengirim dua judul artikel yang berbeda;
2. Panjang artikel 10-15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1 1/2, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
3. Artikel dikirim dalam bentuk cetak terjilid rangkap 2 (dua), disertai soft file berupa disket atau CD;
4. Artikel diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 13 September 2008;
5. Artikel dikirim dalam sampul tertutup disertai kode LPAKI – 2008 langsung ke Panitia Lomba Penulisan Artikel Tentang Kepustakawanan melalui pos atau email ke alamat:
A/n Luthfiati Makarim, Bidang Layanan Koleksi Umum, Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi, Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi, Perpustakaan Nasional RI. Jl. Salemba Raya No.28A, Jakarta Pusat. Telpon dan fax: (021) 3156149, 3103554, e-mail: luthfiaty@yahoo.com

G. KRITERIA PENILAIAN

1. Artikel harus memiliki nilai manfaat untuk pengembangan pustakawan Perpustakaan Nasional RI, khususnya untuk peningkatan kualitas layanan Perpustakaan Nasional RI;
2. Bersifat aplikatif dan inovatif;
3. Isi artikel harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
4. Artikel belum pernah/sedang dilombakan;
5. Artikel belum pernah dipublikasikan di media apapun;
6. Isi artikel harus sesuai dan relevan dengan tema lomba dan topik penulisan;
7. Artikel yang sudah dikirim menjadi hak panitia lomba;
8. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

H. HADIAH
Juara 1: Rp. 6.000.000,- (Enam juta rupiah) dan piagam penghargaan;
Juara 2: Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan;
Juara 3: Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan;
Juara Harapan 1: Rp.2.500.000,- (Dua juta lima ratus ribu rupiah) dan piagam penghargaan;
Juara Harapan 2: Rp.2.000.000,- (Dua juta rupiah) dan piagam penghargaan;
Juara Harapan 3: Rp.1.500.000,- (Satu juta lima ratus ribu rupiah) dan piagam penghargaan;

Hanya ada masing-masing satu orang pemenang untuk juara harapan 1-3;
Hadiah dipotong pajak yang ditanggung oleh pemenang.

Sumber: Situs Perpustakaan Nasional RI

Beasiswa Penulisan & Penerjemahan Novel – Majelis Kata Indonesia 2008

•June 25, 2008 • 2 Comments

Majelis Kata Indonesia merupakan lembaga filantropi yang berikhtiar menumbuhkan dan mewadahi bentuk-bentuk penciptaan sastra yang menggerakkan kritisisme sosial, semangat toleransi, dan kesadaran kebangsaan. Lembaga ini mendorong dan mendukung bentuk-bentuk penciptaan sastra yang memperluas cakrawala memahami kemanusiaan.

Majelis Kata Indonesia menyelenggarakan beasiswa penulisan dan penerjemahan novel 2008 dengan ketentuan-ketentuan ini:

Gagasan penulisan dan penerjemahan novel yang menggerakkan kritisisme sosial, semangat toleransi, dan kesadaran kebangsaan dengan topik apa pun dan tanpa batasan jumlah halaman.

Penerima beasiswa penulisan novel diberi dana setiap bulan sebesar Rp 1.000.000,- selama 6 bulan. Masa penulisan novel selama 6 bulan.

Penerima beasiswa penerjemahan novel diberi dana setiap bulan sebesar Rp 1.000.000,- selama 6 bulan dan setiap hasil terjemahannya dihargai sesuai harga pasar. Masa penerjemahan novel selama 6 bulan.

Penerima beasiswa penulisan novel bisa mendapatkan data atau konsultan yang relevan dari penyelenggara beasiswa.

Novel penerima beasiswa akan diterbitkan oleh penyelenggara beasiswa dengan royalti sebesar 10% dari setiap kontrak penerbitannya. Penerima beasiswa penulisan novel berhak menawarkan novelnya ke penerbit lain setelah 4 tahun sejak penerbitannya yang pertama.

Novel terjemahan penerima beasiswa akan diterbitkan oleh penyelenggara beasiswa tanpa royalti dari setiap penerbitannya. Penerima beasiswa penerjemahan novel berhak menawarkan novel terjemahannya ke penerbit lain setelah 4 tahun sejak penerbitannya yang pertama.

Pelamar beasiswa mengirimkan 3 rangkap sinopsis novel yang akan ditulis atau 3 rangkap sinopsis novel yang akan diterjemahkan disertai judul novel, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit, dan fotokopi sampul depan. Pelamar beasiswa penulisan dan penerjemahan novel menyertakan fotokopi bukti identitas yang masih berlaku, nomor telepon, alamat pos, alamat e-mail, dan biodata singkat. Alamat penyelenggara beasiswa ini: MAJELIS KATA INDONESIA 2008, Pusat Studi Islam dan Kenegaraan, Jl. Gatot Subroto Kav. 96-97, Mampang, Jakarta 12700

Gelombang pertama beasiswa ini menerima surat lamaran hingga 1 Agustus 2008 (cap pos). Pelamar gelombang pertama yang disetujui akan dihubungi via telepon atau e-mail oleh penyelenggara beasiswa pada Minggu kedua September 2008. Penyelenggara beasiswa tidak mengembalikan dokumen para pelamar.

Sinopsis penulisan novel dan sinopsis novel yang akan diterjemahkan akan diseleksi dan dinilai oleh tim kurator penyelenggara beasiswa. Semua keputusan tim kurator tidak untuk diganggu gugat.

Demi profesionalitas, setiap penerima beasiswa akan menandatangi surat kontrak penulisan novel atau penerjemahan novel.

Sumber: http://binhadnurrohmat.com/beasiswa-penulisan-penerjemahan-novel-majelis-kata-indonesia-2008-60.php

Matanya Berwarna Coklat

•June 25, 2008 • 8 Comments

Matanya berwarna coklat. Bukan coklat muda seperti yang disukai kebanyakan orang. Tapi coklat. Coklat tua. Coklat yang benar-benar coklat.
Pertama kali aku melihat matanya, adalah sore itu. Ketika itu langit cerah dan semburat cahaya matahari menerpa matanya. Seperti ruang kosong yang kemudian terisi cahaya, matanya menjadi begitu jelas buatku. Coklat. Benar-benar coklat.
Bila aku melihat matanya, aku akan teringat pada coklat yang sangat aku suka. Bulat matanya mengingatkanku pada bola coklat yang berisi kenari. Coklat yang sangat enak.
Kadang, kalau aku melihatnya tersenyum, maka coklat mata itu akan berbinar. Seperti coklat batangan yang meleleh terkena hangatnya kegembiraan. Kadang aku lihat, coklat mata itu begitu muram. Lebih muram daripada hitam.
Aku mengisi sore ini dengan berharap dia akan meneleponku. Walaupun aku tidak akan melihat matanya, tapi aku akan mendengarkan suaranya. Dan ketika itu aku akan membayangkan bagaimana mata itu akan bergerak ke kanan dan ke kiri. Mengerjap senang, atau pun membulat riang.
Aku membuat coklat panas dan duduk di samping jendela. Cahaya matahari sore masuk dan menembus gorden tipis jendela rumahku. Di sampingku, ada sebuah lukisan yang belum selesai. Cat-cat yang berantakan. Kuas yang tegeletak di lantai. Sebuah sketsa lukisan mata. Mata yang bulat bercahaya. Ini adalah mata yang sedang gembira.
Aku belum bisa melanjutkannya. Entah kenapa, aku tidak bisa menemukan warna coklat yang tepat untuk mewarnai lukisan itu. Semua warna coklat sudah aku coba. Aku mencampurkan hijau muda dengan merah, tapi bukan coklat seperti itu yang aku mau. Aku juga mencampurkan kuning dengan ungu. Tapi aku tidak mendapatkan warna coklat yang persis sama seperti matanya.
Terdengar suara pintu diketuk. Gadis beramata coklat itu berdiri di depan pintu dan tersenyum. Gaunnya ringan melayang berwarna merah muda dengan motif berwarna putih. Entah apa motifnya, mungkin kupu-kupu. Mungkin juga bunga kecil yang sedang mekar.
Dia masuk dan duduk di sofaku. Membiarkan aku melihat matanya dalam-dalam. Matanya bercahaya. Bukan karena matahari sore kembali menerpa matanya dan membuatnya mengerjap-ngerjap silau, tapi karena si pemilik mata sedang gembira.
Dia bercerita tentang siang hari yang menyenangan buatnya. Tentang bunga. Tentang kucing. Entah tentang apa lagi. Kadang aku tidak bisa mendengarnya karena aku terlalu sibuk dengan matanya. Kadang aku berharap matanya saja yang bicara. Yang menyampaikan semua cerita.
“Apa masih ada kopi?” tanyanya. Berdiri dan melihat ke arah gelasku.
“Coklat,” jawabku. Aku mengangkat sedikit gelasku. Dia tersenyum.
“Bisa sakit gigi nanti.” Dia berjalan ke arah lukisanku yang belum selesai. Melihatnya beberapa saat.
“Mata?” tanyanya. Aku mengangguk. “Indah.”
Aku tersenyum. Aku ingin sekali mengatakan kalau itu adalah matanya. Tapi aku urungkan niat itu. Aku membiarkan dia mengagumi lukisan itu. Yang belum aku warnai sama sekali. Kalau sudah jadi, aku ingin sekali memberikan untuknya sebagai hadiah. Aku berjalan ke dapur. Dia mengikutiku dari belakang. Gaunnya melayang ringan seirama gerakan kakinya yang mulus dan panjang. Rambutnya yang hitam terurai sampai ke pinggang.
“Coklat?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.
“Kenapa jadi suka coklat?” tanyanya. Aku tediam sesaat. Aku melihat ke dalam matanya yang berwarna coklat tua. Aku berusaha mengingat kapan awalnya aku menyukai coklat. Seingatku, aku tidak menyukai yang manis-manis.
“Hmm… lagi bosen. Pengen coba yang lain.”
“Susu?” tanyanya lagi. Dia mengambil sendok dari tanganku dan menakar coklat bubuk yang akan aku masukkkan ke gelas. Dia mengambil tiga sendok. Aku menambahkan gula dan menyeduhnya dengan air panas.
“Terlalu putih.”
Dia tertawa.
“Susu coklat?” tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak.
“Masih terlalu putih.”
“Kopi?”
“Terlalu hitam.”
Dia terdiam. Aku berusaha mengerti jawabanku sendiri. Agak aneh mengomentari makanan dari warnanya. Karena warna tidak ada urusan dengan rasa. Sama anehnya dengan memberi jawaban; agak hijau kecoklatan untuk pertanyaan tentang rasa gado-gado.
Malamnya, aku berusaha menyelesaikan lukisan itu. Aku mencampurkan warna. Mengulang campurannya. Memberi bahan pewarna lain. Tapi hasilnya belum memuaskanku. Akhirnya aku mencoba mewarnainya dengan coklat. Aku membeli berbagai jenis coklat dari berbagai merek. Mencobanya satu per satu. Warnanya memang mendekati. Tapi aku belum menemukan apa yang aku mau. Aku ingin warna coklat itu lebih coklat, lebih tajam, lebih… aku bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang aku mau.
Putus asa, aku pun merebahkan tubuhku di tempat tidur dan berusaha tidak mengingat-ingat masalah campuran warna itu lagi. Aku bermimpi tentang langit yang coklat, tanah, buah, bunga, pelangi, semuanya coklat. Coklat yang indah. Coklat yang aku inginkan. Coklat seperti matanya.
Ketika aku bangun, aku melihat kamarku berantakan oleh coklat. Coklat meleleh di mana-mana. Banyak semut. Aku pun keluar dan duduk di sofa ruang tengah. Matahari sudah tinggi. Angin agak kencang. Ini bulan Februari. Musim penghujan. Aku berharap hujan turun deras malam ini. Agar aku bisa tidur nyenyak dan kembali bermimpi. Kepalaku pusing. Aku memutuskan untuk membuat secangkir coklat panas. Dilanjutkan dengan cangkir yang kedua. Sampai aku kenyang dan merasa agak kembung. Minum sebanyak ini bukan kebiasaanku.
Tidak ada coklat yang seindah coklat matanya.
Sore itu, aku memutuskan untuk membuang lukisanku sekaligus keinginanku untuk menggambar matanya. Ketika dia datang sebentar untuk mengembalikan buku yang dia pinjam, aku memanfaatkan waktu yang sebentar itu untuk menatap matanya. Dan ketika dia tidak pernah datang lagi, entah kenapa, aku pun menyesal kenapa tidak kucongkel saja matanya dan kuletakkan di toples berisi formalin agar bisa kutatap tiap kali aku ingin.
Tapi dia tidak pernah datang lagi. Aku pun mulai lupa bagaimana indah coklat matanya. Aku bahkan mulai melupakan itu. Aku memulai suatu pagi dengan meminum secangkir coklat panas terakhir yang aku punya sambil berpikir untuk pergi ke pantai. Mungkin lebih baik buatku untuk menggambar biru, bukan coklat.

Sedikit Tentang Video Klip Gaby (Catatan Iseng Sambil Ngerjain Tugas)

•June 25, 2008 • 5 Comments

Akhir-akhir ini adik saya, Sarah (15 tahun), sibuk membicarakan cerita tentang Gaby. Awalnya saya tidak peduli. Karena biasanya, cerita Sarah hanya berputar-putar antara gosip dan mitos. Tapi kali ini saya agak peduli juga. Bukan karena ceritanya (karena ceritanya simpang siur dan saya kira hanya akan menghabiskan waktu untuk mencari tahu kebenarannya) tapi karena rekaman video yang (ceritanya) menjadi video-klip lagu tersebut.

Cerita Gaby (terlepas dari benar atau tidaknya) saya kira hanya menjadi promosi lagu “Tinggal Kenangan”. Karena sejak cerita itu beredar, lagu ini pun jadi banyak disukai dan dikenal luas. Masyarakat kita (khususnya adik saya, sebagai salah satu remaja yang saya kenal paling dekat) adalah penyuka mitos dan hal-hal yang berbau gosip. Mitos disukai karena menyeramkan dan gosip disukai karena kebenarannya tidak jelas. Dan saya kira promosi lagu ini sangat berhasil. Karena di handphone remaja akhir-akhir ini ada lagu tersebut.

Yah, saya ceritakan jugalah sedikit tentang si Gaby ini. Menurut Sarah, Gaby adalah cewek band yang pun pacarnya kecelakaan. Karena shock dan sedih, dia membuat sebuah lagu untuk pacarnya. Dia pernah tampil di acara pensi sebuah sekolah (tapi tidak jelas sekolah mana) dan nyanyiannya sempat direkam. rekaman inilah yang kemudian beredar di handphone dan internet. Setelah menyanyikan lagu itu, Gaby pun bunuh diri. Sekarang lagu itu dibawakan oleh band Caramel. Versi lain yang beredar di internet juga banyak. Saya malah jadi bingung membacanya. Mitos yang ada, katanya, kalau kita membuka FS Gaby, FS kita sendiri bakalan error. Karena saya tidak punya FS, jadi saya malas juga mengeceknya. Foto atau data apapun tentang Gaby sendiri tidak jelas. saya malah curiga jangan-jangan dia fiktif.

Agak menyeramkan juga melihat orang terbelah dua di jalanan. Saya sebenarnya tidak setuju dengan peredaran video (direkam dengan kamera handphone ataupun kamera digital) yang mengandung hal-hal semacam ini: kekerasan, sadisme, seks, dan sejenisnya. Beberapa kali saya melihat orang-orang terdekat saya mempunyai rekaman gambar seperti ini. Misalnya Paman saya yang mempunyai rekaman gambar proses otopsi. Okelah kalau gambar itu digunakan di dalam kelas kuliah kedokteran. Tapi kalau disebar-luaskan sehingga siapa saja dapat menonton, wah itu memprihatinkan.

Sekarang ini siapa saja bisa punya handphone dengan kamera. Mereka dengan mudahnya bisa merekam apa saja. Termasuk kalau ada kejadian seperti kecelakaan di jalan yang membuat tubuh korban hancur sampai gambar seorang teman sedang merayakan kelulusan misalnya. Tapi saya kira, harusnya, ada kode etik (saya juga tidak bisa menyebutkan kode etik apapun selain moral) untuk tidak menyebarkannya.

Hal yang paling saya ingat sampai sekarang (untungnya pagi ini saya sudah sarapan, kalau tidak saya bisa muntah) adalah keladian ketika saya kelas 1 SMA. Sepulang sekolah, saya biasa menonton televisi sambil makan siang. Hari itu saya menonton salah satu siaran berita kriminal sambil menunggu acara kuis kesukaan saya. Berita terakhir yang disiarkan adalah tentang seorang pengendara motor yang bertabrakan dengan mobil pribadi. Kalau hanya gambar lokasi dan keadaan setelah kejadian, saya mungkin tidak akan apa-apa. Tapi ada gambar sang pengendara motor yang telah meninggal sedang diangkat dari lokasi menuju pinggir jalan. Biasanya gambar akan disamarkan. Tapi kali ini penyamarannya terlambat. Selama beberapa detik saya melihat kondisi kepala korban yang pecah dan ada yang menggelantung di kepalanya (saya kira itu kulit kepala dan jaringan di sekitar kepala yang terkelupas) plus benda putih yang berjatuhan mirip adonan kue. Saya pun sadar kalau itu otak! Saya langsung muntah. Setelah kejadian itu, saya jadi sangat hati-hati kalau menonton berita kriminal karena saya tidak suka melihat apa yang saya tidak ingin lihat.

Saya pikir ini lebih menakutkan dari adegan kekerasan dalam sinetron kita yang tidak mendidik. Karena ini real. Kembali lagi ke adik saya dan video klip Gaby-nya, adik saya ini pun sekarang suka sekali mengumpulkan gambar-gambar sejenis ini dan memperlihatkannya pada saya. Walaupun dia penakut, tapi untuk urusan gambar seperti ini, dia jadi berani. Saya prihatin seprihatin-prihatinnya. Yang saya bisa lakukan untuk adik saya adalah menasehatinya. Yang Mama saya lakukan adalah menyita handphone-nya. Tapi apa yang saya bisa lakukan untuk ribuan atau bahkan jutaan gambar seperti itu di luar sana?

(Catatan ini saya tulis sambil mengerjakan tugas kuliah karena pusing juga mendengar adik saya ngoceh terus tentang Gaby 🙂 )

100 Novel Terbaik yang Pernah Dibuat

•June 12, 2008 • 1 Comment

Membaca ini, awalnya, agak gimana juga… gitu. Soalnya, saya pecinta berat Bumi Manusia dan kalau saya yang membuat survey tentang “Seratus Novel Terbaik yang Pernah Dibuat”, tentu Bumi Manusia akan saya masukkan.

Data ini saya dapatkan dari Modern Library. Lumayan juga untuk menambah pengetahuan. walaupun saya juga masih bertanya, “List ini dibuat berdasarkan apa ya?”. Tapi yang labih menyedihkan, dari list ini, hanya beberapa yang pernah saya baca. Atau dengan kata lain, saya masih sangat kurang membaca 🙂

1. ULYSSES by James Joyce
2. THE GREAT GATSBY by F. Scott Fitzgerald
3. A PORTRAIT OF THE ARTIST AS A YOUNG MAN by James Joyce
4. LOLITA by Vladimir Nabokov
5. BRAVE NEW WORLD by Aldous Huxley
6. THE SOUND AND THE FURY by William Faulkner
7. CATCH-22
8. DARKNESS AT NOON by Arthur Koestler
9. SONS AND LOVERS by D.H. Lawrence
10. THE GRAPES OF WRATH by John Steinbeck
11. UNDER THE VOLCANO by Malcolm Lowry
12. THE WAY OF ALL FLESH by Samuel Butler
13. 1984 by George Orwell
14. I, CLAUDIUS by Robert Graves
15. TO THE LIGHTHOUSE by Virginia Woolf
16. AN AMERICAN TRAGEDY by Theodore Dreiser
17. THE HEART IS A LONELY HUNTER by Carson McCullers
18. SLAUGHTERHOUSE-FIVE by Kurt Vonnegut
19. INVISIBLE MAN by Ralph Ellison
20. NATIVE SON by Richard Wright
21. HENDERSON THE RAIN KING by Saul Bellow
22. APPOINTMENT IN SAMARRA by John O’Hara
23. U.S.A. (trilogy) by John Dos Passos
24. WINESBURG, OHIO by Sherwood Anderson
25. A PASSAGE TO INDIA by E.M. Forster
26. THE WINGS OF THE DOVE by Henry James
27. THE AMBASSADORS by Henry James
28. TENDER IS THE NIGHT by F. Scott Fitzgerald
29. THE STUDS LONIGAN TRILOGY by James T. Farrell
30. THE GOOD SOLDIER by Ford Madox Ford
31. ANIMAL FARM by George Orwell
32. THE GOLDEN BOWL by Henry James
33. SISTER CARRIE by Theodore Dreiser
34. A HANDFUL OF DUST by Evelyn Waugh
35. AS I LAY DYING by William Faulkner
36. ALL THE KING’S MEN by Robert Penn Warren
37. THE BRIDGE OF SAN LUIS REY by Thornton Wilder
38. HOWARDS END by E.M. Forster
39. GO TELL IT ON THE MOUNTAIN by James Baldwin
40. THE HEART OF THE MATTER by Graham Greene
41. LORD OF THE FLIES by William Golding
42. DELIVERANCE by James Dickey
43. A DANCE TO THE MUSIC OF TIME (series) by Anthony Powell
44. POINT COUNTER POINT by Aldous Huxley
45. THE SUN ALSO RISES by Ernest Hemingway
46. THE SECRET AGENT by Joseph Conrad
47. NOSTROMO by Joseph Conrad
48. THE RAINBOW by D.H. Lawrence
49. WOMEN IN LOVE by D.H. Lawrence
50. TROPIC OF CANCER by Henry Miller
51. THE NAKED AND THE DEAD by Norman Mailer
52. PORTNOY’S COMPLAINT by Philip Roth
53. PALE FIRE by Vladimir Nabokov
54. LIGHT IN AUGUST by William Faulkner
55. ON THE ROAD by Jack Kerouac
56. THE MALTESE FALCON by Dashiell Hammett
57. PARADE’S END by Ford Madox Ford
58. THE AGE OF INNOCENCE by Edith Wharton
59. ZULEIKA DOBSON by Max Beerbohm
60. THE MOVIEGOER by Walker Percy
61. DEATH COMES FOR THE ARCHBISHOP by Willa Cather
62. FROM HERE TO ETERNITY by James Jones
63. THE WAPSHOT CHRONICLES by John Cheever
64. THE CATCHER IN THE RYE by J.D. Salinger
65. A CLOCKWORK ORANGE by Anthony Burgess
66. OF HUMAN BONDAGE by W. Somerset Maugham
67. HEART OF DARKNESS by Joseph Conrad
68. MAIN STREET by Sinclair Lewis
69. THE HOUSE OF MIRTH by Edith Wharton
70. THE ALEXANDRIA QUARTET by Lawrence Durell
71. A HIGH WIND IN JAMAICA by Richard Hughes
72. A HOUSE FOR MR BISWAS by V.S. Naipaul
73. THE DAY OF THE LOCUST by Nathanael West
74. A FAREWELL TO ARMS by Ernest Hemingway
75. SCOOP by Evelyn Waugh
76. THE PRIME OF MISS JEAN BRODIE by Muriel Spark
77. FINNEGANS WAKE by James Joyce
78. KIM by Rudyard Kipling
79. A ROOM WITH A VIEW by E.M. Forster
80. BRIDESHEAD REVISITED by Evelyn Waugh
81. THE ADVENTURES OF AUGIE MARCH by Saul Bellow
82. ANGLE OF REPOSE by Wallace Stegner
83. A BEND IN THE RIVER by V.S. Naipaul
84. THE DEATH OF THE HEART by Elizabeth Bowen
85. LORD JIM by Joseph Conrad
86. RAGTIME by E.L. Doctorow
87. THE OLD WIVES’ TALE by Arnold Bennett
88. THE CALL OF THE WILD by Jack London
89. LOVING by Henry Green
90. MIDNIGHT’S CHILDREN by Salman Rushdie
91. TOBACCO ROAD by Erskine Caldwell
92. IRONWEED by William Kennedy
93. THE MAGUS by John Fowles
94. WIDE SARGASSO SEA by Jean Rhys
95. UNDER THE NET by Iris Murdoch
96. SOPHIE’S CHOICE by William Styron
97. THE SHELTERING SKY by Paul Bowles
98. THE POSTMAN ALWAYS RINGS TWICE by James M. Cain
99. THE GINGER MAN by J.P. Donleavy
100. THE MAGNIFICENT AMBERSONS by Booth Tarkington

Sumber: http://www.randomhouse.com/modernlibrary/100bestnovels.html

Dia Bilang, Dia Ingin Aku Mati Lebih Dulu

•June 10, 2008 • 8 Comments

Suatu malam, sebelum tidur,aku bertanya padanya, “Kalau kamu bisa memilih, siapa yang lebih baik mati lebih dulu? Aku atau kamu?”

Buatku awalnya ini hanya pertanyaan biasa. Pertanyaan basa-basi sebelum tidur. Daripada tidak mengatakan apa-apa.

Tapi kadang aku pikir, ini adalah tanda kalau ada yang lebih kuasa daripada cinta. Kita berjanji saling mencintai, saling menjaga, tapi bila mati datang, tidak akan ada yang bisa mencegah. Dan mati adalah kesendirian. Kembali pada cinta yang sebenarnya. Cinta apapun tidak akan bisa menemani.

Dia bilang, “Lebih baik kamu dulu yang mati.”

Aku bilang, “Itu egois. Maunya mati belakangan.”

Dia bilang, “Bukan begitu. Kalau kamu mati lebih dulu, kamu tidak perlu merasakan sakitnya kehilangan. Biar aku yang merasakan itu. Merasakan sakitnya kehilangan kamu.”